TUMBANG MASAO — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Kepala Desa Tumbang Masao, Salim Ismail, S.I.P., resmi bertunangan dengan kekasihnya, Sindy, dalam sebuah prosesi adat Dayak yang khidmat di kediaman mempelai perempuan pada Minggu, 6 Juli 2026. Momentum sakral kepala desa termuda di Kecamatan Sumber Barito ini sekaligus menjadi panggung penegasan pentingnya menjaga kearifan lokal di tengah arus modernisasi.
Sebagai pemimpin muda, Salim memandang pinangan ini bukan sekadar urusan domestik, melainkan refleksi dari kuatnya sinergi antara struktur pemerintahan desa dan lembaga adat.
“Saya dan keluarga menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya kepada seluruh warga, tokoh agama, mantir adat, dan tokoh masyarakat. Berkat kebersamaan kita, acara ini berjalan lancar, penuh khidmat, dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya kita,” ujar Salim Ismail, Minggu (6/7/2026).
Prosesi pengikatan janji suci ini berlangsung kental dengan nuansa budaya Dayak. Ritual adat tersebut dipimpin dan disaksikan langsung oleh tokoh agama, Mantir Adat Efendy, serta tokoh masyarakat setempat untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai dengan hukum adat yang berlaku.
Dari penyampaian niat baik hingga penyerahan simbol ikatan (tanda pertunangan), setiap fase ritual dijalankan secara tertib. Langkah ini diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus menjaga marwah identitas budaya Desa Tumbang Masao agar tidak tergerus zaman.
Berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak keluarga, hari pernikahan atau resepsi sakral lanjutan dijadwalkan bakal dilangsungkan pada Agustus 2026 mendatang.
Acara yang berlangsung hangat ini juga dihadiri oleh warga desa. Bagi masyarakat Tumbang Masao, pernikahan sang kepala desa dinilai memiliki dimensi sosial yang penting: sebagai simbol bahwa pemimpin mereka tumbuh dan merayakan fase hidupnya bersama-sama dengan rakyat.
Mantir Adat Tumbang Masao, Efendy, menegaskan bahwa momentum ini membawa harapan baru bagi stabilitas sosial dan kepemimpinan di desa tersebut.
“Ini bukan hanya hari bahagia untuk Pak Kades dan keluarga. Ini hari bahagia kita semua. Kami berdoa semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah, dan membawa energi baru untuk kemajuan Desa Tumbang Masao,” tutur Efendy.
Melalui restu adat dan dukungan struktural dari tokoh masyarakat, pertunangan ini diharapkan menjadi titik awal bagi Salim Ismail untuk memperkokoh pengabdiannya dalam membangun lini birokrasi Desa Tumbang Masao yang maju, religius, dan tetap berbasis pada akar budaya lokal.











