PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET
Jauh di ujung paling hulu Sungai Joloi, denyut pelayanan publik Indonesia dipertaruhkan. Di Desa Tumbang Tohan, Kecamatan Seribu Riam, Kabupaten Murung Raya—wilayah yang berbatasan langsung dengan Kalimantan Barat—seorang tenaga kesehatan bernama Rena berjuang melawan keterbatasan. Sebagai motor penggerak Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Tumbang Tohan di bawah Dinas Kesehatan Murung Raya, Rena menjadi benteng pertama sekaligus terakhir bagi layanan kesehatan dasar warga di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) tersebut.
Akses geografis yang ekstrem dan isolasi wilayah menempatkan Pustu Tumbang Tohan pada posisi krusial. Lokasinya yang sangat jauh dari pusat kota dengan opsi transportasi yang terbatas, membuat setiap tindakan medis yang dilakukan Rena bernilai sangat tinggi. Melalui unggahan di media sosial pribadinya baru-baru ini, Rena membagikan potret realitas fasilitas kesehatan kayu tempatnya bernaung, sembari mengirimkan pesan pengabdian dari pelosok negeri yang kerap luput dari perhatian pusat.
Tantangan di perbatasan bukan sekadar urusan mengobati penyakit fisik. Rena mengungkapkan bahwa hambatan terbesar di lapangan adalah benturan dengan kondisi alam, jarak tempuh yang memakan waktu, serta upaya gigih untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya literasi kesehatan yang berkelanjutan.
“Kami hadir agar warga di perbatasan tidak merasa ditinggalkan. Kesehatan adalah hak dasar, di mana pun mereka berada,” ujar Rena menegaskan komitmennya.
Di wilayah perbatasan ini, peran Rena melampaui tugas standar seorang perawat. Ia dituntut menjalankan tiga fungsi sekaligus secara simultan: promotif (edukasi pencegahan), preventif (pencegahan penyakit), dan kuratif awal (pengobatan darurat). Pustu Tumbang Tohan praktis menjadi satu-satunya jembatan penghubung yang mengintegrasikan masyarakat adat setempat dengan sistem kesehatan daerah yang lebih besar.
Kehadiran tenaga medis seperti Rena menjadi bukti bahwa pelayanan publik masih berusaha menjangkau titik koordinat terjauh Indonesia, meski dengan fasilitas yang sarat keterbatasan.
Kisah dari hulu Sungai Joloi ini kembali memotret sunyinya pengabdian di garis depan perbatasan negara. Di tengah jargon pemerataan pembangunan, kondisi di Tumbang Tohan menjadi sinyal kuat bagi pemerintah pusat maupun daerah. Diperlukan langkah konkret—bukan sekadar retorika—untuk meningkatkan dukungan sarana, prasarana fisik, fasilitas penunjang medis, serta jaminan kesejahteraan yang layak bagi para tenaga kesehatan yang bertaruh nyawa di beranda depan Nusantara.(Lnk)
-
-
.
-






