PALANGKA RAYA LENTERAKALIMANTAN.NET

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Murung Raya, Sutrisno, S.T., melontarkan kritik keras terhadap arah pembangunan daerah yang dinilai masih kerap mengandalkan asumsi ketimbang basis data ilmiah. Ia menegaskan, mencetak ribuan sarjana di Murung Raya akan sia-sia jika generasi muda dan pemerintah daerah tidak mengadopsi cara berpikir ilmiah untuk membedah problem riil di lapangan.

Pernyataan menohok tersebut disampaikan Sutrisno saat diwawancarai oleh awak media Suara Akar Rumput di Palangka Raya baru-baru ini.

“Ilmu tanpa pendekatan ilmiah hanya berhenti di hafalan. Yang kita butuhkan adalah lulusan yang mampu membedah masalah, menguji solusi, dan membuat keputusan berdasarkan data. Itu pembeda antara sarjana biasa dan pembawa perubahan,” tegas Sutrisno.

Menurut legislator ini, potret dunia pendidikan tinggi saat ini kerap kali kehilangan arah. Banyak ilmu yang dipelajari di menara gading kampus menjadi tumpul karena tidak diolah melalui metode riset, analisis mendalam, dan refleksi riil di lapangan. Dampaknya, daerah kekurangan pemikir taktis yang mampu mengeksekusi solusi.

Untuk memutus mata rantai tersebut, Sutrisno mendorong mahasiswa asal Murung Raya untuk membiasakan diri dengan kerja lapangan dan analisis kritis sejak bangku kuliah. Harapannya, saat kembali ke daerah, mereka tidak sekadar membawa ijazah, melainkan gagasan konkret yang siap menjawab carut-marut persoalan pendidikan, kesehatan, hingga penguatan ekonomi desa.

Sebagai langkah konkret, Sutrisno mendesak Pemerintah Kabupaten Murung Raya untuk segera membuka ruang partisipasi bagi mahasiswa dalam program riset dan pengabdian masyarakat. Ia menilai, sinkronisasi kebijakan daerah selama ini masih lemah karena minimnya keterlibatan akademisi.

Bagi Sutrisno, kolaborasi segitiga antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat adalah jalur cepat (akselerasi) untuk membangun Murung Raya. Daerah, lanjut dia, hanya bisa maju jika setiap kebijakan publik dilahirkan melalui riset berbasis bukti (evidence-based policy), bukan sekadar berdasarkan asumsi elite birokrasi. (Lkg)

Bagikan: