BANJARBARU — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Kalimantan Selatan kini berada dalam status alarm mikro. Menghadapi puncak musim kemarau 2026 yang diproyeksikan jauh lebih kering dari kondisi normal, Gubernur Kalsel H. Muhidin menginstruksikan seluruh unsur Satuan Tugas (Satgas) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) untuk masuk ke fase siaga penuh mulai hari ini.
Langkah tegas ini diambil menyusul lonjakan drastis aktivitas titik api (hotspot). Sepanjang Juni 2026 saja, tercatat ada 629 titik panas yang telah menghanguskan 42 hektare lahan. Jika diakumulasikan sejak awal tahun hingga Juli 2026, angka infeksi api telah menembus 1.678 titik panas dengan 41 kejadian kebakaran besar yang tersebar di berbagai wilayah Bumi Lambung Mangkurat.
“Data ini menjadi peringatan bagi kita semua agar tidak lengah. Pencegahan harus menjadi prioritas karena jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah kebakaran meluas,” ujar Gubernur Muhidin usai memimpin Apel Kesiapsiagaan Bencana Karhutla 2026 di halaman Kantor Gubernur Kalsel, Banjarbaru, Senin (6/7/2026).
Gubernur menegaskan bahwa kunci keberhasilan penjinakan karhutla tahun ini bertumpu pada kecepatan eksekusi di lapangan. Untuk itu, Pemprov Kalsel menerapkan strategi satu sistem komando yang dipimpin langsung oleh Gubernur dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel sebagai motor pelaksana.
Fokus pengetatan pengawasan kini diarahkan ke kawasan Ring 1 Bandara Syamsudin Noor, objek vital nasional yang memiliki kerawanan tinggi terhadap kebakaran lahan gambut. Gubernur memerintahkan optimalisasi mitigasi fisik di area tersebut.
“Seluruh personel maupun sarana prasarana harus dipastikan siap mulai hari ini. Tingkatkan patroli terpadu, perkuat deteksi dini titik panas, dan lakukan pemadaman secepat mungkin sejak kebakaran pertama kali terdeteksi,” tegas Muhidin di hadapan barisan Satgas.
Langkah mitigasi yang diinstruksikan meliputi pembangunan dan pemeliharaan sekat kanal serta embung untuk menjaga tinggi muka air (water table) lahan gambut, hingga peningkatan frekuensi patroli terpadu di kawasan rawan.
Kewaspadaan tinggi ini beralasan. Berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September mendatang dengan intensitas curah hujan yang jauh di bawah normal.
Sinyal bahaya ini direspons cepat oleh daerah. Saat ini, sebagian besar kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan telah resmi menetapkan status siaga karhutla. Sementara itu, hanya Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten Tanah Bumbu yang dilaporkan masih bertahan pada status waspada.
Mengingat kompleksnya medan gambut, Muhidin menggarisbawahi bahwa pertempuran melawan api tidak bisa dimenangkan oleh aparat sendirian. Ia mengetuk kesadaran moral masyarakat, terutama para pemilik modal dan peladang, untuk menyetop tradisi pembersihan lahan dengan cara dibakar.
“Kita ingatkan kembali agar masyarakat tidak membakar lahan dan secepatnya melaporkan apabila mengetahui ada titik api di sekitar wilayahnya. Keberhasilan pengendalian karhutla membutuhkan partisipasi aktif masyarakat,” pesannya.
Apel kesiapsiagaan ini sekaligus menjadi ajang pamer kekuatan (show of force) kesiapan personel gabungan. Di bawah rintik simulasi penanggulangan karhutla, seluruh elemen lintas instansi memperagakan rantai komando mulai dari deteksi satelit, koordinasi taktis, pengerahan armada, hingga teknik pemadaman darat.
Hadir dalam konsolidasi akbar tersebut Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin, Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan, jajaran Forkopimda, para bupati/wali kota, Manggala Agni, Basarnas, Satpol PP, dunia usaha, hingga relawan kebencanaan.













