BANJARMASINLENTERAKALIMANTAN.NET

Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan mendesak generasi muda yang tergabung dalam Karang Taruna untuk tidak lagi sekadar menjadi penonton di tengah ancaman krisis pangan dan darurat sampah. Organisasi kepemudaan ini ditantang mengambil peran nyata di tingkat desa demi menekan angka urbanisasi pemuda ke kota.

Hal itu ditegaskan oleh Sekretaris Dinas Sosial Provinsi Kalsel, Wildan Akhyar, saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Karang Taruna se-Kalsel di Banjarmasin, Senin (17/6/2026). Acara yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti oleh 26 peserta dari berbagai daerah di Kalsel.

Wildan, yang hadir mewakili Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalsel M. Farhanie, menyatakan bahwa Karang Taruna memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak kesejahteraan sosial dan pembangunan dari level akar rumput.

“Di tingkat desa maupun Kabupaten/Kota, tantangan ketahanan pangan masih nyata, seperti keterbatasan lahan, banyaknya pemuda yang memilih merantau, serta ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Karena itu, Karang Taruna yang paling dekat dengan masyarakat dapat menjadi bagian dari solusi,” ujar Wildan, Senin (15/6/2026).

Bukan tanpa alasan Dinsos Kalsel mendorong peran ini. Wildan menjelaskan, berdasarkan Peraturan Menteri Sosial Nomor 9 Tahun 2025, anggota termuda Karang Taruna tingkat desa kini berusia 17 tahun. Di usia yang sangat produktif tersebut, mereka dianggap memiliki kreativitas, energi, serta jejaring kuat yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Langkah awal yang ditawarkan pun tidak muluk-muluk. Wildan mencontohkan gerakan kemandirian pangan bisa dimulai dari pekarangan rumah sendiri.

“Upaya sederhana seperti menanam cabai, tomat, maupun tanaman produktif lainnya di pekarangan rumah dapat menjadi langkah awal dalam mewujudkan kemandirian pangan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan sosial,” kata Wildan menjelaskan. Isu ketahanan pangan ini sendiri menjadi agenda nasional yang krusial agar setiap warga mendapat akses pangan cukup, aman, dan bergizi.

Selain urusan perut, Dinsos Kalsel juga menyoroti persoalan lingkungan akut yang terjadi di berbagai daerah, yakni kondisi darurat sampah. Alih-alih menjadi beban, Karang Taruna diminta melihat tumpukan sampah sebagai komoditas ekonomi baru melalui inovasi pengelolaan yang tepat.

“Permasalahan sampah dapat diubah menjadi sumber daya yang bernilai. Pemanfaatan sampah tidak hanya memberikan manfaat bagi Karang Taruna, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat sekitar,” tambahnya.

Melalui pengembangan potensi lokal—baik dari sektor pangan mikro maupun pengelolaan limbah—Karang Taruna diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru di desa. Dengan begitu, organisasi ini tidak hanya mencegah pemuda produktif pergi merantau, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi desa menuju kesejahteraan sosial yang merata.

(mckalsel)

Bagikan: