MALANG – LENTERAKALIMANTAN.NET
Di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kian dinamis, Bank Indonesia (BI) wilayah Kalimantan mengambil langkah strategis dengan memperkuat barisan opinion maker. Langkah ini diambil untuk memastikan arus informasi ekonomi tetap akurat guna menjaga optimisme publik di tengah ketidakpastian global.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan sekaligus Koordinator Wilayah Kalimantan, Aloysius Donanto H.W, menegaskan bahwa kebijakan moneter saja tidak cukup untuk menstabilkan ekonomi. Diperlukan pemahaman kolektif dari masyarakat agar tidak terjebak dalam kepanikan informasi.
“Bank Indonesia terus menempuh berbagai langkah stabilisasi. Namun masyarakat juga diharapkan memahami kondisi yang sebenarnya terjadi dan turut berkontribusi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, salah satunya dengan mengutamakan transaksi menggunakan rupiah dan fokus pada konsumsi produk domestik,” ujar Aloysius dalam kegiatan Capacity Building Opinion Maker di Kota Malang, Rabu (6/5/2026).
Aloysius menyoroti derasnya arus informasi digital sebagai tantangan utama. Menurutnya, banyak informasi yang berkembang saat ini tidak sepenuhnya menggambarkan realitas ekonomi yang ada (beyond reality), sehingga berpotensi menciptakan ekspektasi negatif di masyarakat.
Ia mengajak jurnalis, akademisi, dan tokoh masyarakat untuk menjadi filter informasi. “Tantangan kita adalah bagaimana memberikan pemahaman bahwa ada informasi yang beyond reality. Reality-nya harus kita lihat secara lebih proper supaya masyarakat bisa menyikapi fenomena dengan lebih baik,” ungkapnya.
Komunikasi kolaboratif ini bertujuan untuk memperkecil perbedaan perspektif. Aloysius menekankan pentingnya verifikasi sebelum informasi disebarluaskan. “Kalau ada hal-hal lain, mari kita konfirmasi bersama. Jadi kita tidak hanya menelan mentah-mentah informasi, tetapi juga mengkalibrasi sebenarnya seperti apa konteksnya,” tambahnya.
Meskipun nilai tukar rupiah sedang bergejolak, BI mencatat bahwa indikator makroekonomi nasional dan regional Kalimantan masih menunjukkan performa positif. Pertumbuhan ekonomi dan inflasi Indonesia dinilai relatif terjaga.
Khusus untuk Kalimantan, Aloysius melihat adanya transformasi struktur ekonomi yang menarik. Sektor ketenagakerjaan mulai menunjukkan pergeseran ke arah yang lebih terdiversifikasi di luar sektor pertambangan yang selama ini mendominasi.
“Kita melihat nilai tukar rupiah memang bergejolak, tetapi di sisi lain pertumbuhan ekonomi bagus, inflasi juga bagus. Ini yang perlu dipahami lebih mendalam agar masyarakat memahami konteks dan relevansinya,” jelas Aloysius.
Mengakhiri arahannya, Aloysius mengingatkan pentingnya pengelolaan transaksi secara bijak. Masyarakat diminta lebih selektif dalam melakukan konsumsi maupun transaksi valuta asing. Langkah ini dianggap krusial agar tidak memberikan tekanan tambahan terhadap posisi rupiah di pasar global.
Melalui forum strategis ini, BI berharap para opinion maker dapat memperluas wawasan dan membangun jejaring komunikasi yang kuat untuk memahami kondisi Indonesia, khususnya dampak langsung bagi wilayah Kalimantan.(Mckalsel/lenka)











