Foto: Istimewa
JAKARTA, LENTERAKALIMANTAN.NET— Kementerian Luar Negeri RI mengecam keras aksi militer Israel yang mencegat konvoi misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di perairan internasional Mediterania Timur, dekat Siprus, pada Minggu, 18 Mei 2026. Insiden penahanan 10 kapal bantuan ini memicu kekhawatiran nasional lantaran sembilan relawan kemanusiaan asal Indonesia—termasuk dua jurnalis—berada di dalam rombongan yang dikepung tersebut.
Hingga Senin, 19 Mei 2026, situasi di lapangan dilaporkan masih sangat dinamis dan menegangkan. Otoritas diplomatik Indonesia baru berhasil mengidentifikasi dua dari sembilan nama WNI yang terjebak di perairan tersebut.
Salah satunya adalah Andi Angga Prasadewa, delegasi dari Global Peace Convoy Indonesia – Rumah Zakat, yang dikonfirmasi berada di kapal bernama Josef. Sementara itu, nasib Bambang Noroyono, jurnalis Republika yang ikut meliput misi ini, masih tak menentu. Komunikasi dengan kapal yang ditumpanginya terputus sepenuhnya pasca-pencegatan oleh militer Israel.
Pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas atas insiden yang melanggar hukum internasional di perairan luar teritorial tersebut. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menyatakan bahwa pemerintah tengah bergerak cepat mengantisipasi segala risiko buruk.
“Pemerintah terus berkoordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait untuk menjamin keselamatan seluruh WNI. Proses komunikasi dan verifikasi informasi masih berlangsung,” ujar Vahd Nabyl dalam keterangan resminya.
Kemlu RI juga menegaskan kembali komitmen mutlaknya untuk melindungi setiap warga negara Indonesia yang tengah menjalankan misi kemanusiaan internasional. Otoritas terkait berjanji akan terus memperbarui informasi ke publik segera setelah mendapat kepastian valid dari lapangan. (Lkg)
Sumber: Kementerian Luar Negeri (RI)











