PURUK CAHU –  LENTERAKALIMANTAN.NET

Gelombang kelulusan SMA/SMK/MA di Kabupaten Murung Raya tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi masa depan daerah. Anggota Komisi A DPRD Murung Raya, Imanudin, S.Pd.I., menegaskan bahwa ijazah sekolah menengah hanyalah “tiket masuk” menuju gelanggang ilmu yang lebih tinggi, bukan akhir dari perjalanan pendidikan.

“Ini fase krusial. Kalian harus melangkah dengan nalar yang cerdas, hati yang humanis, dan tekad yang harmonis untuk kembali membangun Murung Raya,” ujar Imanudin saat memberikan pesan dedikasi kepada para lulusan di Puruk Cahu, Senin, 12 Mei 2026.

Politikus yang membidangi pendidikan dan kesehatan ini menyoroti realitas di lapangan. Menurutnya, Murung Raya saat ini masih mengalami defisit tenaga profesional di wilayah-wilayah strategis. Ia menilai bonus demografi daerah berjuluk Tana Malai Tolung Lingu ini hanya akan menjadi beban jika generasi mudanya enggan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Jurusan seperti kesehatan, pendidikan, pertanian presisi, teknologi informasi, hingga energi terbarukan disebut sebagai sektor paling relevan. “Kita defisit dokter di kecamatan, guru di pedalaman, dan inovator pangan lokal. Kampus adalah tempat kalian meracik solusinya,” tegas Imanudin.

Di tengah arus digital, Imanudin mengingatkan mahasiswa baru untuk membentengi diri. Literasi digital dan kesehatan mental menjadi bekal wajib guna menghadapi ancaman nyata seperti judi online, pinjaman online (pinjol) ilegal, narkoba, hingga paham intoleran yang kerap mengincar mahasiswa di perantauan.

“Ilmu tanpa adab akan tumpul. Gelar tanpa pengabdian akan hampa. Jadilah sarjana yang membumi,” pesannya.

Berdasarkan data Dapodik 2025, meski ribuan siswa lulus setiap tahun, Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi di Murung Raya masih perlu dipacu. Merespons hal ini, Komisi A DPRD Murung Raya memastikan pengawasan anggaran pendidikan tetap menjadi prioritas utama.

Imanudin mendorong Pemerintah Daerah untuk memperkuat tiga instrumen pendukung:

  1. Beasiswa Afirmasi: Khusus untuk anak-anak di wilayah pedalaman.

  2. Fasilitas Asrama: Optimalisasi asrama mahasiswa Murung Raya di berbagai kota studi.

  3. Program Magang: Sinkronisasi teori kampus dengan realitas di Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan BUMD.

Menutup pesannya, ia mengajak para lulusan untuk merawat mimpi setinggi mungkin tanpa melupakan akar budaya dan asal-usul mereka. Tantangan besar menanti mereka untuk kembali ke daerah setelah menyelesaikan studi dengan membawa inovasi.

“Pergilah menuntut ilmu setinggi mungkin. Tapi pulanglah membawa harapan, inovasi, dan keberanian untuk mengabdi. Murung Raya butuh kalian,” pungkasnya.(Lkg)


Bagikan: