TABALONGLENTERAKALIMANTAN.NET

Suasana senja di Desa Hapalah, Kecamatan Banua Lawas, mendadak mencekam pada Rabu (13/5/2026) malam. Seorang pelajar laki-laki berusia 13 tahun ditemukan tak bernyawa di area persawahan RT 02 setelah sempat dinyatakan hilang saat pamit memancing.

Penemuan jasad korban yang merupakan warga Desa Binturu, Kecamatan Kelua ini bermula dari kekhawatiran orang tua. Korban diketahui belum kembali ke rumah hingga menjelang Magrib setelah sebelumnya pergi memancing menggunakan sepeda usai mengaji di TPA.

Kapolres Tabalong, AKBP Wahyu Ismoyo J., melalui Kasi Humas IPTU Heri Siswoyo, mengonfirmasi kronologi penemuan tersebut. Menurutnya, pencarian dilakukan oleh pihak keluarga dan tetangga hingga ke lokasi biasa korban memancing.

“Di lokasi, ditemukan sepeda milik korban terparkir di ujung jembatan. Setelah dilakukan penyisiran sejauh 100 meter, saksi menemukan korban dalam kondisi telungkup di perairan sedalam satu meter,” ujar IPTU Heri.

Kondisi korban saat ditemukan cukup menyita perhatian. Meski tangannya masih menggenggam gelas air mineral, mulut remaja tersebut mengeluarkan busa. Anehnya, peralatan memancing seperti ember, payung, dan kail sudah dalam keadaan terkemas rapi, menandakan korban sebenarnya telah bersiap untuk pulang.

Tim Identifikasi Sat Reskrim Polres Tabalong bersama Kapolsek Banua Lawas IPTU Gigih Sutanto segera melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna memastikan tidak adanya unsur tindak pidana.

Kepala Puskesmas Banua Lawas, dr. Himawan Indaryanto, yang melakukan pemeriksaan visum luar, mengungkap sejumlah fakta medis terkait kondisi jenazah.

“Ditemukan beberapa tanda seperti bibir dan telinga membiru, adanya busa pada bagian hidung dan mulut, serta lidah tergigit. Namun, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian leher maupun tubuh bagian belakang,” papar dr. Himawan dalam laporannya.

Pihak kepolisian akhirnya mendapatkan titik terang setelah menggali keterangan dari pihak keluarga. Diketahui, korban memiliki riwayat penyakit epilepsi dan sering mengalami kejang-kejang secara mendadak.

Diduga kuat, penyakit tersebut kambuh saat korban berada di pinggir perairan sawah, yang kemudian menyebabkannya terjatuh dan tidak mampu menyelamatkan diri.

Keluarga korban menyatakan telah mengikhlaskan kejadian ini sebagai musibah murni. Mereka menolak dilakukan prosedur autopsi dan telah menandatangani surat pernyataan resmi di hadapan petugas. Jenazah kini telah dievakuasi ke rumah duka di Desa Hapalah RT 05 untuk proses pemakaman.

Bagikan: