
BANJARBARU LENTERAKALIMANTAN.NET
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalimantan Selatan terus memperkuat upaya penyerapan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) ke dunia kerja melalui optimalisasi program Tracer Study atau penelusuran lulusan yang difasilitasi Kementerian Pendidikan.
Program tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk memetakan keberlanjutan lulusan SMK, baik yang bekerja, berwirausaha, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kepala Disdikbud Kalsel, Abdul Rahim, melalui Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter, Abdurrahman, mengatakan data Tracer Study menunjukkan jumlah lulusan yang terlacak mencapai sekitar 17 ribu orang pada 2024 dan sekitar 16 ribu orang pada 2025.
“Ada program dari kementerian namanya Tracer Study, yaitu pelacakan lulusan. Tahun 2024 itu sekitar 17.000 lulusan, tahun 2025 sekitar 16.000 lulusan. Dari data itu ada 10 indikator,” ujarnya, Kamis (11/6/2026).
Berdasarkan hasil penelusuran tersebut, mayoritas lulusan SMK di Kalimantan Selatan telah terserap ke berbagai sektor produktif. Tidak hanya bekerja di perusahaan, banyak alumni yang memilih berwirausaha maupun melanjutkan pendidikan.
“Kalau kita lihat dari indikator yang ada, hampir 80 persen siswa kita sudah bekerja. Ada yang membuka usaha sendiri, ada yang bekerja di perusahaan atau dunia usaha dan industri, serta ada yang melanjutkan kuliah. Dalam sistem, mereka tidak masuk kategori pengangguran,” jelasnya.
Meski demikian, Abdurrahman mengakui masih terdapat tantangan dalam pendataan lulusan. Salah satunya adalah rendahnya tingkat pelaporan dari alumni setelah menyelesaikan pendidikan, sehingga data keberlanjutan lulusan tidak seluruhnya tercatat dalam sistem.
“Kadang setelah lulus anak-anak tidak melaporkan aktivitas mereka. Akibatnya, secara nasional lulusan SMK masih dianggap memiliki angka pengangguran yang cukup tinggi,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdikbud Kalsel terus mendorong berbagai langkah strategis guna memperkuat keterhubungan antara sekolah dan dunia kerja. Salah satunya melalui penguatan kerja sama dengan perusahaan tempat siswa menjalani praktik kerja lapangan atau magang.
“Sebagaimana arahan pimpinan, kami mengupayakan agar perusahaan tempat siswa magang juga dapat merekrut mereka setelah lulus. Selain itu, sekolah yang memiliki potensi juga kami dorong membuka kelas industri,” ujarnya.
Menurut Abdurrahman, kelas industri menjadi salah satu model pendidikan vokasi yang efektif karena dirancang sesuai kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI), sehingga peluang kerja lulusan menjadi lebih besar.
Ia mencontohkan kerja sama yang telah berjalan pada jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) dengan perusahaan teknologi.
“Kelas industri memang dipersiapkan agar siswa bisa langsung bekerja setelah lulus. Seperti kerja sama dengan Axioo di jurusan TKJ, proses seleksinya tersendiri dan setelah lulus dapat langsung terhubung dengan perusahaan,” jelasnya.
Selain memperluas kelas industri, Disdikbud Kalsel juga terus melakukan pemetaan jumlah dan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri di daerah sebagai dasar penyusunan program penyerapan tenaga kerja lulusan SMK.
“Dalam beberapa bulan terakhir kami sudah memetakan jumlah DUDI yang ada. Kami juga berharap perusahaan dapat memberikan kesempatan kepada lulusan yang memiliki kompetensi dan bakat untuk direkrut, sehingga dapat membantu mengurangi angka pengangguran lulusan SMK,” pungkasnya(mckalsel/lnk).











