
BANJARMASIN LENTERAKKALIMANTAN.NET
Lomba Edukatif Kultural Mading Tiga Dimensi (3D) yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan melalui UPTD Museum Waja Sampai Kaputing (Wasaka) resmi berakhir. Ajang yang diikuti 16 sekolah tingkat SMA, SMK, dan SLB ini berhasil melahirkan karya-karya kreatif bertema sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan, dengan SMAN 7 Banjarmasin keluar sebagai juara pertama.
Kepala Disdikbud Provinsi Kalimantan Selatan, Abdul Rahim, melalui Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman, Arry Risfansyah, mengapresiasi antusiasme seluruh peserta yang dinilai mampu menggabungkan kreativitas dengan pemahaman sejarah dalam karya yang ditampilkan.
“Alhamdulillah, lomba tahun ini telah terlaksana sesuai dengan capaian yang kita inginkan. Dari 16 sekolah yang mengikuti, baik SMA, SMK, maupun SLB, semuanya telah memberikan perwakilan,” ujarnya di Banjarmasin, Kamis (24/7/2026).
Menurut Arry, tingginya minat peserta terlihat dari keaktifan mereka selama pelaksanaan lomba, khususnya saat mengikuti pengarahan dan berdiskusi dengan dewan juri mengenai sejarah revolusi fisik di Kalimantan Selatan.
“Rata-rata peserta tahun ini tidak mengalami kesulitan berarti. Mereka justru aktif bertanya terkait sejarah revolusi fisik Kalimantan Selatan,” katanya.
Berdasarkan Surat Keputusan Dewan Juri Nomor 122/Juri/CBM/Disdikbud/2026, SMAN 7 Banjarmasin berhasil meraih Juara I dengan nilai 800. Posisi Juara II diraih SMA Frater Don Bosco Banjarmasin dengan nilai 750, sedangkan Juara III diraih SMAN 2 Banjarmasin dengan nilai 660.
Adapun Juara Harapan I diraih SLBN 3 Banjarmasin dengan nilai 495, Juara Harapan II diraih SMAN 1 Mandastana dengan nilai 480, dan Juara Harapan III diraih SMAIT Ukhuwah Banjarmasin dengan nilai 470.
Arry berharap karya mading tiga dimensi yang dihasilkan peserta tidak hanya menjadi hasil perlombaan semata, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sejarah di sekolah masing-masing.
“Kita mengharapkan kreativitas mereka dalam mengenal sejarah tidak berhenti sampai di sini saja. Karya mading tiga dimensi yang mereka buat juga bisa dibawa ke sekolah untuk disampaikan kepada teman-teman yang lain,” ungkapnya.
Dalam proses penilaian, panitia menghadirkan tiga dewan juri yang berasal dari berbagai bidang, yakni sejarawan Wajidi, jurnalis dan komunikator Budi Kurniawan, serta praktisi artistik M. Syahril M. Noor.
M. Syahril M. Noor menilai karya para peserta secara umum menunjukkan kreativitas yang baik, meskipun sebagian peserta masih menghadapi sejumlah kendala teknis dalam penyajian materi sejarah.
“Ada peserta yang sudah memahami sejarah dengan baik, tetapi ada juga yang masih mengalami kesulitan karena baru pertama kali mengikuti lomba,” jelasnya.
Sementara itu, sejarawan Wajidi menekankan pentingnya kesesuaian antara unsur artistik dengan fakta sejarah yang diangkat. Menurutnya, penggunaan visual, foto, maupun alur cerita harus tetap mengacu pada konteks sejarah agar nilai edukatif yang disampaikan tidak berkurang.
Ia menambahkan, penilaian lomba tidak hanya berfokus pada akurasi sejarah, tetapi juga mencakup aspek kreativitas, keunikan, interaktivitas, serta kemampuan peserta dalam menyampaikan pesan sejarah secara menarik.
“Kendati demikian, unsur gerak, suara, atau visual warna-warni yang ditampilkan tetap harus disesuaikan dengan konteks masa lalu agar tidak menyimpang dari nilai sejarah yang ingin disampaikan,” ujarnya.
Juri lainnya, Budi Kurniawan, menilai lomba tersebut menjadi sarana yang efektif bagi generasi muda untuk belajar mengomunikasikan sejarah melalui media kreatif yang mudah dipahami.
“Menyampaikan sejarah lewat mading tiga dimensi tidak mudah. Cerita sejarah itu kompleks, sementara medianya terbatas. Dibutuhkan kedetailan dan kreativitas. Namun, ini merupakan langkah luar biasa karena anak muda belajar berkomunikasi dan menyampaikan sejarah dengan cara yang lebih sederhana dan mudah dipahami,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, Disdikbud Provinsi Kalimantan Selatan berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari sejarah daerah serta mampu mengemasnya dalam bentuk karya kreatif yang edukatif dan inspiratif(mckalsel/lnk).










