MARABAHAN — LENTERAKALIMANTAN.NET
Di tengah derasnya arus digitalisasi, ruang siber kini tak hanya menyajikan informasi edukatif, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi infiltrasi ideologi dan perilaku menyimpang, termasuk konten LGBTQ. Menyikapi ancaman riil terhadap moralitas generasi muda tersebut, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Barito Kuala (Batola) menginstruksikan penguatan benteng spiritual melalui amalan shalawat serta memperketat sinergi pembinaan keagamaan di akar rumput.
Kepala Kantor Kemenag Batola, Bukhari Muslim, S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa kemudahan akses informasi tanpa batas di media sosial telah membuat anak-anak dan remaja berada dalam posisi rentan.
“Media sosial memberikan banyak manfaat, namun di sisi lain juga membuka ruang masuknya berbagai pengaruh yang tidak selalu sesuai dengan nilai-nilai agama. Karena itu diperlukan penguatan iman, akhlak, dan pemahaman keagamaan agar generasi muda memiliki kemampuan untuk menyaring informasi yang diterimanya,” ujar Bukhari dalam keterangannya, Selasa (23/6/26)
Secara khusus, Bukhari menggarisbawahi bahwa salah satu tantangan paling krusial saat ini adalah penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai agama dan budaya bangsa, termasuk konten yang berkaitan dengan LGBTQ. Sebagai langkah preventif spiritual, ia mengajak umat Islam untuk memperbanyak amalan bershalawat kepada Rasulullah SAW, merujuk pada tuntunan Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 56.
Menurut Bukhari, shalawat bukan sekadar bentuk kecintaan kepada Nabi, melainkan jangkar keteguhan hati di era disrupsi moral.
“Dengan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW, insya Allah hati akan semakin dekat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, sehingga kita diberikan kekuatan dalam menjalani kehidupan serta dijauhkan dari berbagai bentuk pemahaman dan perilaku yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ini merupakan salah satu ikhtiar spiritual yang penting dilakukan oleh umat Islam,” tuturnya.
Kemenag Batola menyadari bahwa pendekatan spiritual harus berjalan beriringan dengan langkah taktis di lapangan. Guna membangun ketahanan moral yang sistemik, institusi ini memastikan akan meluncurkan penguatan program pembinaan keagamaan yang menyasar langsung kelompok pelajar dan pemuda.
Gerakan pembinaan ini akan mengintegrasikan seluruh lini kerja di bawah Kemenag, mulai dari Kantor Urusan Agama (KUA), madrasah, pondok pesantren, penyuluh agama, hingga majelis taklim.
“Kami akan terus berupaya meningkatkan pembinaan dan edukasi keagamaan kepada generasi muda agar mereka memahami ajaran Islam secara utuh, memiliki ketahanan moral yang kuat, serta mampu menjaga diri dari berbagai bentuk perilaku dan paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama,” kata Bukhari menegaskan. Ia menambahkan, langkah ini merupakan tanggung jawab kolektif untuk mencetak generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlakul karimah.
Kendati program institusional terus dipacu, Bukhari mengingatkan bahwa benteng utama tetap berada pada unit terkecil masyarakat, yaitu keluarga, yang didukung oleh lembaga pendidikan dan tokoh agama. Pengawasan digital tidak akan pernah efektif jika tidak dibarengi dengan penanaman karakter sejak dini.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan pengawasan semata. Yang lebih penting adalah membangun pemahaman agama yang benar, memperkuat karakter, dan menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini sehingga generasi muda memiliki ketahanan dalam menyikapi berbagai pengaruh dari luar,” jelas Bukhari.
Di akhir penjelasannya, ia berharap seluruh elemen masyarakat di Barito Kuala dapat bergerak aktif menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan kondusif demi melindungi masa depan generasi penerus.
“Semoga Allah SWT senantiasa melindungi generasi muda kita dan seluruh umat dari berbagai pemikiran, perilaku, serta pengaruh yang menyimpang dari ajaran Islam, serta memberikan kekuatan kepada kita semua untuk terus menjaga nilai-nilai keimanan dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.












