PURUK CAHU – LENTERAKALIMANTAN.NET
Alun-Alun Jorih Merah, Puruk Cahu, bersiap bersolek. Selama empat hari penuh, mulai 24 hingga 27 Juni 2026, pusat kota Kabupaten Murung Raya ini akan disulap menjadi arena pembuktian spiritualitas birokrasi melalui Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VIII KORPRI. Namun, di balik riuh kompetisi antar-perangkat daerah ini, ada beban moral besar yang dipertaruhkan: mampukah ajang tahunan ini melahirkan aparatur sipil negara (ASN) yang berintegritas, ataukah berakhir sebagai ritual seremonial belaka?
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, hajatan keagamaan kali ini diklaim lahir dari rahim kolaborasi penuh antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif Murung Raya. Kerja sama lintas lembaga ini sengaja dirancang untuk meruntuhkan sekat ego sektoral, sekaligus menegaskan bahwa Al-Qur’an harus menjadi kompas moral dalam pelayanan publik.
Ketua Harian MTQ VIII KORPRI, H. Rahmanto Mohidin, S.H.I., M.H.I., menyadari betul bahwa kemegahan panggung tidak akan berarti tanpa gaung dari masyarakat. Ia menegaskan, indikator awal keberhasilan acara ini ada pada denyut partisipasi warga.
“Jadikan MTQ VIII KORPRI sebagai momentum mempererat kebersamaan dan meningkatkan kecintaan terhadap Al-Qur’an. Kehadiran warga mulai pembukaan hingga penutupan akan menambah keberkahan dan semarak acara,” ujar Rahmanto.
Meski didukung penuh, jalannya MTQ tetap memicu catatan kritis dari gedung parlemen. Anggota Komisi I DPRD Murung Raya, Imanudin, S.Pd.I., mengingatkan agar kontestasi ini tidak terjebak pada sekadar perebutan piala dan melupakan esensi substansialnya. Di tengah derasnya arus modernisasi yang melanda daerah, MTQ harus berfungsi sebagai rem darurat sekaligus ruang refleksi identitas.
“Modern boleh datang, tetapi identitas jati diri tidak boleh hilang. Maknailah Al-Qur’an sebagai petunjuk jalan yang bercahaya bagi umat Islam di Murung Raya,” kata Imanudin.
Lebih jauh, legislator dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dikenal berhaluan nasionalis ini menekankan bahwa output nyata dari MTQ ini harus berdampak pada kohesi sosial di Murung Raya, sebuah wilayah yang majemuk.
“Harapannya, kegiatan ini melahirkan masyarakat yang harmonis dalam bingkai rahmatan lil alamin, rukun antar suku, agama, etnis, dan golongan,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Imanudin melemparkan kritik konstruktif yang menohok kepada panitia dan peserta. Bagi parlemen, ukuran kesuksesan sejati dari gelaran MTQ KORPRI VIII ini bukan dihitung dari seberapa banyak qari dan qariah yang keluar sebagai juara, melainkan seberapa dalam nilai-nilai tersebut diimplementasikan dalam birokrasi dan kehidupan berbangsa pasca-acara selesai.
“Sebaik-baiknya umat adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkas Imanudin, menutup catatannya terhadap potret religiusitas birokrasi di Murung Raya.












