PURUK CAHU – LENTERAKALIMANTAN.NET
Kekayaan alam Murung Raya selama ini identik dengan sektor pertambangan. Namun, di balik itu, ada geliat ekonomi kreatif yang terus bertahan dari tangan-tangan terampil perajin rotan dan bambu. Melihat potensi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Imanudin, S.Pd.I., menyerukan langkah konkret untuk membawa produk kearifan lokal ini “naik kelas” agar mampu menembus pasar nasional hingga ekspor.

Imanudin menilai, produk kerajinan tangan seperti tas rambat, tudung, hingga peralatan rumah tangga berbahan dasar rotan dan bambu bukan sekadar komoditas ekonomi semata. Lebih dari itu, karya-karya tersebut merupakan cerminan identitas budaya Bumi Tana Malai Tolung Lingu yang harus tetap lestari.

“Saya sangat mengapresiasi para perajin yang memanfaatkan kekayaan alam sekitar menjadi produk bernilai. Rotan dan bambu yang diolah menjadi tas rambat, tudung, nyiru, hingga perabot rumah tangga adalah bukti kreativitas dan kearifan lokal kita masih hidup,” ujar Imanudin saat ditemui di Puruk Cahu, Senin (28/4/2026).

Legislator tersebut menegaskan bahwa kerajinan berbahan alami memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan produk pabrikan, yakni ramah lingkungan, durabilitas tinggi, dan estetika yang khas. Meski begitu, ia mengakui bahwa perajin lokal kini berada di tengah gempuran produk massal yang lebih murah.

Untuk mengatasi hal tersebut, Imanudin mendorong pemerintah daerah untuk tidak sekadar memberikan pujian, melainkan menyediakan dukungan kebijakan yang nyata. Strategi yang diusulkan meliputi fasilitasi bahan baku berkelanjutan, pelatihan desain agar lebih modern, hingga penguatan branding.

“Pemerintah daerah dan DPRD siap mendorong agar UMKM kerajinan ini naik kelas. Mulai dari fasilitasi bahan baku berkelanjutan, penguatan branding, hingga promosi ke pasar nasional bahkan ekspor. Ini potensi ekonomi kreatif yang bisa menggerakkan roda perekonomian desa,” tambahnya.

Selain infrastruktur pendukung, regenerasi menjadi catatan penting dalam diskusi tersebut. Imanudin secara terbuka mengajak generasi muda Murung Raya untuk tidak merasa malu atau inferior menekuni keterampilan menganyam. Menurutnya, perpaduan antara keterampilan tradisional dengan inovasi desain anak muda adalah kunci untuk membuat produk tersebut relevan di pasar modern.

“Ketika kearifan lokal bertemu kreativitas, maka lahirlah produk unggulan. Dari tangan-tangan terampil inilah Murung Raya dikenal, bukan hanya kaya tambang, tapi juga kaya budaya,” pungkas Imanudin dengan nada optimis.

Dengan langkah strategis yang terintegrasi, kerajinan rotan dan bambu diharapkan tidak hanya menjadi pengisi kebutuhan lokal, tetapi menjadi ikon ekonomi kreatif yang membawa nama Murung Raya dikenal lebih luas di panggung nasional.(Lkg)

Bagikan: