
PURUK CAHU – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, H. Johansyah, S.E., M.I.P., melontarkan alarm penting bagi dunia pendidikan di Bumi Tana Malai Tolung Lingu. Ia menegaskan bahwa pendidikan intelektual yang tidak dibarengi dengan penguatan etika, adab, dan akhlak bukan sekadar ketimpangan, melainkan hilangnya arah peradaban bagi generasi mendatang.
“Ilmu tanpa adab akan kehilangan arah, dan kepintaran tanpa akhlak akan kehilangan keberkahan,” ujar Johansyah dalam keterangannya pada Minggu, 26 April 2026.
Bagi Johansyah, sekolah tidak boleh hanya terjebak dalam rutinitas mencetak otak yang cerdas secara akademik. Ia menekankan bahwa lembaga pendidikan harus bertransformasi menjadi ‘kawah candradimuka’ yang mampu melahirkan keseimbangan antara nalar, rasa, dan perilaku.
Ia menggambarkan situasi ini dengan perumpamaan yang tajam: kecerdasan tanpa karakter ibarat lentera tanpa cahaya. Tanpa nilai-nilai moral, kepintaran hanya akan melahirkan individu yang pandai berdebat namun miskin empati.
Untuk mewujudkan visi pendidikan holistik tersebut, Johansyah mendorong kolaborasi strategis yang ia sebut sebagai Empat Arus Penggerak Bangsa:
◾Pemerintah: Sebagai arsitek kebijakan yang berpihak pada nilai karakter.
◾Dunia Usaha: Menjadi katalis dalam ekosistem pembelajaran.
◾Kaum Cendekia: Sebagai penyuluh ilmu dan kebijaksanaan.
◾Keluarga & Komunitas: Rahim utama persemaian nilai dan keteladanan.
“Keempat arus ini harus bertaut seirama merawat ekosistem pendidikan di mana kurikulum, budaya sekolah, dan teladan guru berjalan beriringan,” tambahnya.
Politisi ini mengingatkan bahwa adab dan etika bukanlah sekadar materi hafalan dalam buku pelajaran, melainkan praktik hidup yang harus disemai di rumah, kelas, hingga ruang publik. Targetnya jelas: melahirkan insan yang fasih berlogika sekaligus santun dalam bertindak sebagai modal utama membangun Murung Raya yang bermartabat.
Menutup pernyataannya, Johansyah menegaskan komitmen DPRD Murung Raya untuk terus mengawal kebijakan pendidikan yang menyeimbangkan ranah kognisi (intelektual), afeksi (perasaan), dan psikomotorik (tindakan).
“Investasi terbaik daerah ini adalah manusia. Ketika pendidikan, etika, adab, dan akhlak berjalan selaras, maka lahirlah generasi yang tidak hanya mampu menjawab zaman, tetapi juga memuliakan zaman,” pungkasnya.(Lkg)











