Foto: Istimewa
BANJARMASIN — LENTERAKALIMANTAN.NET
Rencana megaproyek pembangunan jalur kereta api Trans-Kalimantan mendapat lampu hijau dan respons positif dari daerah. Dewan Pimpinan Pusat Forum Kerukunan Peduli Warga Kalimantan (DPP FKPWK) mendesak pemerintah pusat segera merealisasikan proyek logistik dan transportasi massal yang terintegrasi hingga ke Malaysia dan Brunei Darussalam tersebut.
Pembina DPP FKPWK, H. Junaidi, menyatakan bahwa proyek ini bukan sekadar impian baru, melainkan kelanjutan dari grand design lama yang sempat tertunda. Kendati demikian, Junaidi mengingatkan pemerintah daerah (Pemda) di Kalimantan agar tidak sekadar menjadi penonton, melainkan harus bergerak cepat menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal sejak dini melalui investasi pendidikan khusus.
“Dari sekarang, pemerintah daerah yang ada di Kalimantan harus memikirkan agar putra-putri daerahnya diberikan beasiswa sekolah perkeretaapian dengan beberapa jurusan dan peminatan,” kata Junaidi dalam keterangan tertulisnya pada, Selasa (26/5/26).
Ia bahkan menekankan pentingnya standarisasi global jika fasilitas pendidikan di dalam negeri belum mumpuni untuk memenuhi kebutuhan proyek skala internasional ini.
“Kalau di Indonesia tidak ada jurusannya atau tidak ada sekolahnya, ya kirim dan sekolahkan ke luar negeri, misal disekolahkan ke Negara Belanda. Agar nantinya SDM tenaga perkeretaapian berasal dari putra-putri daerah Kalimantan, dan kalau sudah selesai sekolahnya kembali lagi ke Kalimantan,” ujarnya menegaskan.
FKPWK menilai kehadiran kereta api akan memicu efek domino bagi pertumbuhan ekonomi regional, terutama di titik-titik stasiun baru. Selain mempercepat konektivitas antarwilayah, moda transportasi ini diproyeksikan menjadi tulang punggung baru bagi pengangkutan komoditas berkekuatan besar seperti batu bara, sawit, mineral, hingga bahan pokok dan penumpang.
Junaidi memberikan simulasi komparasi yang kontras terkait efisiensi ruang jalan raya dan biaya logistik. Berdasarkan kajian untung-rugi, biaya pengiriman komoditas melalui gerbong kereta jauh lebih murah dan cepat.
“Kalau kereta api ini cepat terealisasi, dampak positifnya juga berpengaruh terhadap angkutan yang melintas di jalan raya. Truk otomatis akan berkurang berseliweran di jalan, mengingat satu gerbong kereta api itu mampu mengangkut sawit yang kalau dibandingkan sama dengan 75 buah angkutan truk sawit,” tutur Junaidi.
Dari aspek ekologis, kehadiran rel kereta api diklaim mampu menekan kerusakan infrastruktur jalan raya akibat kendaraan bermuatan lebih (overloading), sekaligus memangkas emisi karbon di udara secara signifikan demi mewujudkan transportasi ramah lingkungan. Di sisi lain, jalur ini juga diyakini dapat menghidupkan kembali sektor pariwisata dan nilai-nilai budaya lokal.
Proyek ini dipastikan tidak akan mematikan industri transportasi darat yang sudah ada, melainkan menciptakan ekosistem bisnis yang lebih kompetitif dan sehat.
“Tinggal masyarakat saja lagi yang memilih, apakah naik kereta api, naik bus, naik travel, ataupun angkutan truk, atau angkutan darat lainnya dan udara. Kalau rantai ekonomi bergerak, pertumbuhan ekonomi mengikutinya,” ucap Junaidi mengakhiri pernyataannya.
Pembina DPP FKPWK
H.Junaidi












