
MURUNG RAYA – LENTERAKALIMANTAN.NET-
Keterisolasian wilayah tidak melulu harus menunggu selesainya proyek infrastruktur fisik. Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Murung Raya, Tuti Marheni, S.E., menegaskan bahwa penguatan kearifan lokal, kerajinan tangan, dan keterampilan masyarakat adalah jalan pintas yang realistis untuk mendobrak keterisoliran ekonomi, bersandingan dengan penguatan sektor pendidikan.
Menurut Tuti, potensi budaya dan keterampilan khas hilir dan hulu Murung Raya merupakan aset raksasa yang selama ini belum digarap secara maksimal. Jika diintervensi dengan serius, sektor ekonomi kreatif berbasis tradisi ini mampu menjadi motor penggerak kesejahteraan sekaligus jembatan penghubung antardaerah.
“Kearifan lokal, kriteria, kerajinan, serta keahlian di segala bidang keterampilan adalah jalan keluar dari keterisoliran. Di samping pendidikan, kita juga harus menguatkan kapasitas masyarakat agar bisa mandiri dan berdaya saing,” ujar Tuti saat diwawancarai di Murung Raya, Sabtu.
Politikus Murung Raya ini menilai, pengembangan kerajinan tangan dan produk unggulan daerah yang berbasis budaya lokal memiliki efek domino yang besar. Hilirisasi produk lokal ini diyakini dapat membuka peluang usaha baru secara mandiri di tingkat desa, menekan angka pengangguran, dan langsung mendongkrak pendapatan riil keluarga.
Namun, Tuti menggarisbawahi bahwa strategi ini tidak akan berjalan tanpa adanya kolaborasi lintas sektor. Ia berharap seluruh elemen, mulai dari pemerintah desa, lembaga adat, pelaku UMKM, hingga generasi muda tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Kami mengajak semua pihak. Pemerintah memberikan pelatihan dan akses pasar, masyarakat mengasah keterampilan, dan generasi muda berani berinovasi. Dengan begitu, kearifan lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga memberi nilai ekonomi,” jelas Tuti memaparkan peta jalan solusinya.
Sebagai bagian dari fungsi pengawasan dan anggaran, Komisi I DPRD Murung Raya berkomitmen untuk terus mengawal dan mendorong kebijakan daerah yang berpihak pada pelestarian budaya, peningkatan kapasitas SDM (up-skilling), serta pemberdayaan ekonomi kreatif.
Tuti optimistis, keunikan budaya yang dikelola dengan manajemen modern akan menjadi daya tawar bagi kabupaten ini di tingkat nasional.
“Kalau kita kuat di budaya dan keterampilan, daerah kita tidak akan tertinggal. Justru kita bisa menjadi daerah yang mandiri, kreatif, dan dikenal karena keunikan kita sendiri,” pungkas Tuti. (muslim)











