MURUNG RAYA – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Di tengah hiruk-pikuk dinamika politik dan sosial, Ketua Komisi I DPRD Murung Raya, H. Rejikinoor, S.Sos, melontarkan refleksi mendalam mengenai hakikat empati. Ia menekankan bahwa nilai sebuah pertolongan tidak ditentukan oleh besarnya materi, melainkan oleh ketepatan momentum saat bantuan itu diberikan.

“Setetes embun pada musim kemarau panjang akan lebih berarti dari selautan air di musim banjir,” ujar Rejikinoor dengan nada bicara yang teduh saat diwawancarai pada Rabu (4/2)  menyitir sebuah metafora tentang pentingnya kepedulian di masa sulit.

Legislator senior dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini menilai bahwa bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum bagi setiap individu untuk mengkalibrasi ulang kualitas kemanusiaannya. Menurutnya, membantu sesama saat mereka berada di titik terendah—ibarat kemarau panjang—memiliki dampak psikologis dan sosial yang jauh lebih masif dibandingkan bantuan yang melimpah namun datang di saat yang tidak krusial.

Pesan ini bukan sekadar retorika musiman. Rejikinoor berharap narasi “setetes embun” ini mampu memantik kesadaran kolektif masyarakat di Murung Raya untuk menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.

Sebagai wakil rakyat, ia mendorong agar setiap aksi kebaikan kecil dapat menjadi preseden bagi orang lain. Fokusnya adalah bagaimana menciptakan keberlanjutan kebaikan (sustainable kindness) yang mampu menembus sekat-sekat kesulitan ekonomi maupun sosial yang mungkin sedang dihadapi warga.

“Kebaikan yang kita lakukan diharapkan bisa menjadi contoh bagi orang lain dan membawa dampak positif bagi masyarakat,” tambahnya. Melalui petikan mutiara ini, ia berupaya memosisikan diri dan lembaganya bukan sekadar sebagai pembuat kebijakan, tetapi juga sebagai penyejuk kalbu insani yang menebarkan kasih sayang di tengah krisis.(Lkng)

 

Bagikan: