PURUK CAHU, LenteraKalimantan.net – Sektor ekonomi warga di pedalaman Kecamatan Sumber Barito, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, berada dalam kondisi kritis. Krisis multidimensi menghantam wilayah ini menyusul anjloknya harga komoditas lokal yang diperparah oleh lonjakan harga bahan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi isolasi geografis dituding menjadi akar masalah yang mencekik daya beli masyarakat.
Hadi Sugito, salah satu pelaku usaha kecil dan warga Desa di Kecamatan Sumber Barito, membeberkan runtuhnya pilar ekonomi hilir di wilayahnya. Menurut Hadi, harga getah karet di tingkat petani telah merosot tajam hingga berada di bawah ambang batas kelayakan hidup sehari-hari. Nestapa warga kian lengkap karena komoditas non-kayu alternatif seperti rotan, damar, dan bambu—yang biasanya menjadi katup penyelamat ekonomi—kini sama sekali tidak laku di pasaran.
“BBM dan sembako sudah menjadi kebutuhan rutin yang tidak bisa ditunda. Kalau harga hasil kebun terus jatuh, kami tidak punya pilihan lain,” ujar Hadi kepada Suara Akar Rumput, Selasa, 9 Juni 2026.
![]()
Investigasi di lapangan mengungkap bahwa krisis ini bukan sekadar fluktuasi harga biasa, melainkan persoalan struktural yang akut. Minimnya akses pasar dan buruknya infrastruktur transportasi yang menghubungkan desa-desa terpencil dengan pusat ekonomi kabupaten menjadi batu sandungan utama. Akibatnya, rantai pasok dikuasai oleh tengkulak, yang memperlemah posisi tawar petani dan perajin lokal secara ekstrem.
Menyikapi kondisi yang kian mencekik, warga pedalaman melayangkan aspirasi terbuka yang ditujukan kepada Pemerintah Daerah Murung Raya, DPRD, aparat penegak hukum, serta seluruh pemangku kepentingan terkait. Warga menilai, janji manis peningkatan kesejahteraan desa hanya akan menjadi isapan jempol tanpa adanya intervensi kebijakan yang radikal.
Masyarakat mendesak pemerintah segera memotong rantai pasok yang tidak sehat, membenahi akses transportasi, dan menghadirkan langkah konkret yang menyentuh langsung wilayah pedalaman sebelum krisis ekonomi ini berubah menjadi krisis sosial yang lebih besar.











