
BANJARMASIN – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Gema zikir dan lantunan doa membubung dari Majelis Bani Isma’il, Jalan Kayu Kuku, Banjarmasin, Senin (16/03/2026) malam. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru Kalimantan Selatan memadati kawasan Banjar Indah Permai untuk menghadiri Haul ke-2 ulama kharismatik, almarhum KH Syaifuddin Zuhri atau yang akrab disapa Abah Guru Banjar Indah.
Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Hasnuryadi Sulaiman, tampak hadir di tengah para habaib dan ulama. Kehadiran sosok yang akrab disapa Bang Has ini mempertegas kedekatannya dengan figur ulama Banua. Acara dimulai sejak sore hari, diisi dengan pembacaan manaqib, dan ditutup dengan buka puasa serta shalat Maghrib berjamaah.
Almarhum KH Syaifuddin Zuhri bukan sekadar tokoh agama biasa. Beliau merupakan salah satu murid utama dari dua ulama besar: KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul) dan KH Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil). Wafat pada 27 Ramadan 1445 H (7 April 2024), warisan ilmunya tetap hidup melalui Majelis Guru Banjar Indah.
Dalam kesempatan tersebut, Wagub Hasnuryadi mengajak masyarakat untuk tidak sekadar mengenang, tetapi menghidupkan ajaran almarhum.
“Mari kita bersama-sama mendoakan para ulama kita yang telah wafat, sembari meneladani perilaku serta mengamalkan apa yang telah mereka ajarkan kepada kita semua,” ujar Hasnuryadi dengan khidmat.
Ketokohan Abah Guru Banjar Indah menarik antusiasme tinggi. Jamaah yang hadir tidak hanya datang dari Banjarmasin, namun juga meluber dari Banjarbaru, Martapura, hingga daerah sekitarnya. Sejumlah ulama terkemuka turut memberikan penghormatan terakhir, di antaranya KH Abdullah Basya (Guru Basya Sakumpul) dan KH Mubaraq.
Bagi Hasnuryadi, kehadirannya di majelis ini adalah sebuah tradisi spiritual. Pada peringatan haul pertama tahun lalu, ia juga konsisten hadir bersama para pemuka agama untuk memberikan penghormatan kepada guru yang lahir di Dalam Pagar, Martapura, 20 Oktober 1952 tersebut.
Semasa hidupnya, Abah Guru Banjar Indah dikenal aktif mengajar di majelis rutin setiap malam Jumat (setelah Isya) dan Sabtu pagi khusus untuk jamaah perempuan. Kedisiplinannya dalam berdakwah menjadi catatan penting dalam manaqib yang dibacakan di hadapan jamaah.
Peringatan haul ini menjadi pengingat bagi warga Kalimantan Selatan akan pentingnya menjaga silaturahmi antara umara (pemerintah) dan ulama, sebagaimana yang tercermin dari kehadiran jajaran pimpinan daerah dalam ritual keagamaan ini.(Adpim/lnk)














