
BANJARMASIN – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Di balik seragam gagah dan disiplin tinggi, terselip sisi humanis dari para calon perwira Polri. Sore itu, Rabu (18/3/2026), suasana Panti Asuhan Banua Berkah Putra Kalimantan Selatan mendadak riuh oleh kehadiran para Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) asal pengiriman Polda Kalsel. Kedatangan mereka bukan untuk urusan kedinasan formal, melainkan untuk berbagi kehangatan dalam bingkai buka puasa bersama dan bakti sosial.
Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 WITA ini diikuti oleh lintas angkatan, mulai dari Tingkat III (Detasemen 58), Tingkat II (Detasemen 59), hingga Tingkat I (Detasemen 60). Kehadiran para taruna—di antaranya Brigadir Kepala Taruna Erga Siregar, Roy Nababan, Faisal Shaufi, Syahrian Noor, hingga jajaran Brigadir dan Ajun Brigadir Taruna seperti Rajendra Fawwaz, Iman Setiawan, Josepha Angela, Roshinta Putri, Alpin Silalahi, dan Tri Aisyah—menjadi magnet tersendiri bagi anak-anak panti.
Bukan sekadar seremonial, aksi ini menitikberatkan pada bantuan nyata. Paket sembako berupa beras, mi instan, hingga minyak goreng diserahkan langsung kepada pengurus panti. Namun, nilai utama yang ingin ditonjolkan adalah interaksi langsung yang memangkas sekat antara calon penegak hukum dan masyarakat.
Bagi para taruna, agenda ini merupakan laboratorium sosiologi untuk mengasah empati dan kepekaan sosial. Di tengah hiruk-pikuk pendidikan militeristik di kampus, momen berbuka puasa dengan hidangan sederhana bersama anak yatim piatu menjadi pengingat akan jati diri Polri sebagai pelayan masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih atas perhatian dan kunjungan dari adik-adik Taruna Akpol. Kehadiran mereka membawa kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak kami. Semoga kebaikan ini menjadi amal ibadah dan keberkahan bagi kita semua,” ujar salah seorang pengurus Panti Asuhan Banua Berkah Putra.
Suasana kekeluargaan memuncak saat azan Magrib berkumandang. Canda tawa pecah di tengah meja makan, menghapus kesan kaku yang biasa melekat pada citra taruna. Pertukaran cerita antara taruna dan anak asuh panti menjadi penutup manis dari kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut.
Langkah ini diharapkan mampu membentuk karakter perwira masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional yang matang dalam menghadapi realitas sosial di lapangan nantinya.










