BANJARBARU — LENTERAKALIMANTAN.NET
Ancaman gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat gejolak ekonomi global mulai merembet ke Kalimantan Selatan. Menghadapi risiko sosial tersebut, Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) memilih langkah tidak biasa: mengintervensi pasar komoditas pangan dan memperkuat kolaborasi pentahelix bersama insan pers serta influencer lokal.
Strategi taktis ini dibedah dalam Sarasehan Kapolda Kalsel bersama Awak Media, Organisasi Media, dan Penggiat Media Sosial dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80 di Banjarbaru, Selasa (23/6/2026).
Kapolda Kalsel, Irjen Pol Rosyanto Yudha Hermawan, menegaskan bahwa kondusivitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tidak bisa dipisahkan dari isi perut dapur warga.
“Kami tidak bisa sendirian. Perlu kolaborasi pentahelix yang di dalamnya melibatkan awak media untuk bersama-sama mencarikan solusi dan menjaga situasi kamtibmas agar tekanan ekonomi serta dinamika politik tidak memicu gejolak di masyarakat” ujar Rosyanto dalam sambutannya.
Fluktuasi ekonomi imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Balkan diakui Rosyanto mulai memukul sektor korporasi di Bumi Banua. Beberapa perusahaan dilaporkan telah merumahkan hingga mem-PHK karyawannya. Guna mengantisipasi dampak sosial, Polda Kalsel bergerak mengaktifkan desk ketenagakerjaan yang berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pelaku usaha.
Namun, langkah paling konkret justru diambil korps kepolisian ini di sektor ketahanan pangan, khususnya komoditas jagung. Guna menekan inflasi sekaligus menyelamatkan kesejahteraan petani, Polda Kalsel melakukan intervensi pasar melalui Pusat Koperasi Kepolisian (Puskopol).
Puskopol memotong jalur tengkulak dengan membeli jagung pipil basah langsung dari petani seharga Rp3.600 hingga Rp4.000 per kilogram. Sebelumnya, para spekulan bebas mempermainkan harga di level Rp1.800 hingga Rp2.000 per kilogram yang mencekik petani.
“Dengan modal produksi Rp13 juta per hektar dan asumsi hasil standar 7 ton, petani kini bisa mengantongi pendapatan bersih sekitar Rp15 juta per hektar setiap empat bulan sekali panen,” papar Rosyanto merinci kalkulasi ekonominya.
Tak sekadar membeli hasil panen, Polda Kalsel juga menggandeng Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Dinas Pertanian Provinsi Kalsel untuk melakukan riset mineral. Riset ini berhasil menaikkan pH lahan basah yang telah puluhan tahun telantar agar produktif kembali.
Intervensi ini diperkuat secara hukum melalui SK Gubernur yang menelurkan Tabel Rafraksi harga jagung. Regulasi ini mengunci harga sehingga pengepul nakal tidak lagi bisa membeli jagung di bawah Rp4.000. Dalam beberapa hari ke depan, Polda Kalsel bersama Pemprov juga bersiap meresmikan Kabupaten Tanah Laut sebagai Sentra Jagung Provinsi Kalsel yang diproyeksikan menjadi pilot project nasional.
Di sisi lain, Kapolda memberikan apresiasi tinggi kepada media massa di Kalsel yang dinilai berhasil meredam tensi unjuk rasa besar-besaran pada Agustus dan September 2025 lalu. Melalui strategi kontra-narasi yang positif dengan menggandeng akademisi dan tokoh agama, Kalsel tercatat sebagai wilayah paling aman dalam penanganan demonstrasi di Indonesia.
Langkah preventif lewat media ini menjadi krusial mengingat Polda Kalsel tengah menghadapi tantangan berat defisit personel. Saat ini, rasio pemenuhan personel Polda Kalsel baru menyentuh angka 50,1% dari total kebutuhan riil di lapangan, walau angka ini terpantau membaik dibanding tiga tahun lalu yang mandek di posisi 46,8%.
Menghadapi era disrupsi teknologi dan lompatan kecerdasan buatan (AI) yang rawan dimanfaatkan untuk penyebaran informasi provokatif, Rosyanto mewanti-wanti agar media dan para pembuat konten tetap menjadi pembersih ruang digital.
Ketika ditemui usai diskusi terkait harapannya terhadap peran media ke depan, Irjen Pol Rosyanto menegaskan komitmennya untuk menjaga komunikasi ini tetap berjalan dua arah secara konsisten.
“Saya berharap dari diskusi tadi yang pertama, silaturahmi ini, diskusi ini tidak hanya di sini, nanti kita akan laksanakan secara periodik. Kemudian yang kedua, saya juga berharap kita sama-sama menjaga situasi kamtibmas melalui pemberitaan-pemberitaan dan konten-konten yang positif yang kita berikan kepada masyarakat,” tuturnya kepada wartawan.
Ia juga menambahkan rasa terima kasihnya atas sinergi yang telah terbangun kuat selama ini di lini siber. “Alhamdulillah ya selama ini rekan-rekan wartawan, media, influencer di sini bersama-sama dengan kami dari Polda ini cukup banyak membantu menjaga situasi kamtibmas ya. Memberitakan hal-hal yang positif, memberitakan konten-konten yang positif di Polda dan di situasi di Kalimantan Selatan.”
Sarasehan yang mengusung semangat Hari Bhayangkara ke-80 dengan tema “80 Tahun Mengabdi, Polri yang Presisi” ini ditutup dengan komitmen pelayanan yang transparan, akuntabel, dan humanis.
Agenda ini turut dihadiri oleh Wakapolda Kalsel Brigjen Pol Noviar, Pejabat Utama Polda Kalsel, pimpinan organisasi pers (PWI, JMSI, SMSI, IJTI), pimpinan media massa, Komisi Informasi, KPID, TVRI, RRI, serta jajaran penggiat media sosial dan influencer Banua.












