
BARITO KUALA – LENTERAKKALIMANTAN.NET
Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Barito Kuala (Batola) bereaksi keras atas hilangnya Tugu Salam Dayak di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Meski menyatakan keprihatinan mendalam, DAD Batola menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang dan tidak membiarkan gesekan tersebut merusak kedamaian yang telah terbangun di Bumi Ije Jela.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Penjabat (Pj) Ketua DAD Kabupaten Barito Kuala, Syahril Efendi, merespons dinamika yang berkembang di masyarakat adat pasca-lenyapnya simbol budaya tersebut dari titik nol IKN.
Syahril menekankan bahwa menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) jauh lebih krusial di tengah situasi yang memanas. Ia meminta warga Batola tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah persatuan.
“Daerah kita kondusif. Mari kita jaga supaya kondisi ini tidak terganggu oleh siapapun dan apapun. Saya yakin kita semua ingin hidup aman dan damai,” tegas Syahril Efendi dalam keterangan resminya.
Meski mengimbau ketenangan, DAD Batola tidak tinggal diam. Syahril menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan DAD Provinsi Kalimantan Selatan untuk melayangkan protes resmi dan meminta kejelasan dari pihak berwenang.
Pihaknya menuntut Kepala Otorita IKN untuk segera mengembalikan semboyan dan simbol Dayak di kawasan pusat pemerintahan baru tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap entitas lokal.
“Kami ikut prihatin dan menyesalkan kejadian ini. Bersama DAD Provinsi Kalsel, kami meminta kepada Kepala Otorita IKN agar mengembalikan semboyan Dayak di IKN,” tambah Syahril.
Di akhir pernyataannya, Syahril mengingatkan bahwa semangat persatuan dan kesatuan bangsa harus tetap menjadi fondasi utama. Menurutnya, perjuangan untuk identitas adat harus dilakukan dengan cara-cara yang elegan tanpa mengorbankan keamanan wilayah.
Ia berharap seluruh masyarakat tetap mengedepankan dialog dan mempercayakan proses diplomasi adat ini kepada lembaga yang berwenang, demi terciptanya situasi yang tetap kondusif di Kalimantan Selatan, khususnya di Barito Kuala.













