PURUK CAHU, LenteraKalimantan.net– Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, H. Barlin, S.E., mendesak masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai untuk tidak lengah dan mengabaikan mitigasi bencana. Ia mengingatkan bahwa kewaspadaan tidak boleh hanya muncul saat air sungai bergejolak, melainkan harus menjadi kesiapsiagaan yang terjaga sepanjang tahun, baik di musim hujan maupun kemarau.
Ancaman nyata ini terutama mengintai para warga yang tinggal di lanting (rumah apung). Menurut Barlin, fluktuasi permukaan air Sungai Barito yang terjadi cepat dan drastis kerap luput dari perhatian warga yang sibuk dengan aktivitas harian, sehingga berpotensi merusak sarana mobilitas hingga mengancam keselamatan jiwa.
“Waspada terhadap bencana alam itu penting, bukan hanya saat cuaca ekstrem yang mengakibatkan luapan banjir. Saat musim kemarau, air Sungai Barito bisa saja turun drastis di saat masyarakat sedang sibuk dan lengah,” tegas Barlin di Puruk Cahu, Kamis (7/5/2026).
![]()
Barlin menyoroti secara spesifik kondisi rumah apung yang sangat rentan saat debit air menyusut tajam secara mendadak. Jika tidak diantisipasi lebih awal, penurunan permukaan sungai secara drastis dapat menyebabkan lanting kandas ke dasar sungai, memicu kerusakan struktur bangunan, serta memutus akses transportasi air warga.
Oleh karena itu, ia meminta masyarakat tidak lagi menggunakan pola responsif—atau baru bergerak saat keadaan sudah darurat—tetapi beralih ke pola mitigasi aktif.
Sebagai langkah konkret menghadapi ketidakpastian cuaca ini, politikus Murung Raya tersebut meminta warga untuk:
-
Meningkatkan kesiapsiagaan mandiri tanpa menunggu instruksi darurat.
-
Secara aktif mengikuti dan mematuhi arahan dari petugas kebencanaan setempat.
-
Memastikan jalur evakuasi di sekitar pemukiman berfungsi dengan baik.
-
Menyiapkan perlengkapan darurat yang mudah diakses kapan saja.
Melalui peringatan ini, Barlin menekankan bahwa urusan mitigasi bencana bukanlah dominasi dan tugas pemerintah semata. Diperlukan tanggung jawab kolektif dari seluruh lapisan masyarakat untuk meminimalkan risiko sebelum situasi berubah menjadi bencana yang memakan korban.











