
MURUNG RAYA — LENTERAKALIMANTAN.NET
Ancaman krisis pangan global, perubahan iklim ekstrem, hingga disrupsi rantai pasok internasional menuntut daerah untuk bergerak cepat. Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Murung Raya, Lentine Miraya, menegaskan ketahanan pangan tidak lagi sekadar isu lokal, melainkan pilar utama kedaulatan daerah dan benteng pertahanan nasional.
Lentine menilai, tanpa langkah konkret sejak dini, Murung Raya—yang kaya akan sumber daya alam dan lahan luas—hanya akan berakhir sebagai penonton dan pasar bagi produk luar di tengah kompetisi global yang kian agresif.
“Persaingan global hari ini sangat nyata dan keras. Negara-negara di seluruh dunia berlomba-lomba mengamankan pasokan pangannya. Jika kita di Murung Raya tidak siap dan tidak berbenah dari sekarang, kita hanya akan menjadi pasar dan penonton di negeri sendiri. Padahal, Murung Raya dianugerahi lahan yang luas dan sumber daya alam yang melimpah. Kita harus menjadi pemain utama, bukan hanya konsumen,” tegas Lentine Miraya.
Untuk memenangkan persaingan tersebut, Dinas Ketahanan Pangan Murung Raya merancang strategi terintegrasi dan berkelanjutan. Fokus utama diarahkan pada peningkatkan produksi pangan lokal melalui transformasi pertanian modern—mencakup pemanfaatan teknologi, penggunaan bibit unggul, serta optimalisasi lahan tidur dan pekarangan rumah tangga menjadi area produktif.
Selain mekanisasi, langkah cerdas lainnya adalah menekan ketergantungan pada komoditas beras melalui diversifikasi pangan. Potensi lokal seperti jagung, singkong, sagu, dan aneka umbi-umbian dip dorong untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Di sisi hilir, penguatan daya saing produk UMKM pangan digenjot agar mampu menembus pasar regional hingga internasional. Langkah ini ditempuh lewat standardisasi kualitas, inovasi pengemasan, serta digitalisasi pemasaran.
“Ketahanan pangan adalah fondasi dari ketahanan nasional dan fondasi utama pembangunan Murung Raya. Ketika pangan kita kuat dan berdaulat, maka ekonomi kita akan kuat, masyarakat kita sejahtera, dan kita tidak akan mudah diintervensi oleh kepentingan global mana pun,” jelasnya.
Langkah strategis tersebut diturunkan ke dalam sejumlah program prioritas di lapangan, di antaranya:
▪️Gerakan Pangan Murah (GPM): Menjaga stabilisasi harga pasaran dan daya beli masyarakat.
▪️Pengembangan Lumbung Pangan Desa: Memperkuat cadangan pangan berbasis komunitas.
▪️Pembinaan Kelompok Tani & Edukasi B2SA: Mendorong pola konsumsi Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman.
Lentine juga mendorong keterlibatan generasi muda, pelaku UMKM, dan para petani di Bumi Tana Malai Tolung Lingu agar melihat sektor agribisnis sebagai peluang usaha yang modern, bermartabat, dan berprospek cerah.
“Jangan pernah malu menjadi petani modern. Petani hari ini adalah pengusaha pangan, pahlawan pangan bangsa. Dari tangan dingin petani dan pelaku pangan Murung Raya, kita tidak hanya mampu memberi makan daerah kita sendiri, tetapi juga ikut berkontribusi memberi makan Indonesia dan dunia. Inilah cara cerdas kita memenangkan persaingan global,” pungkas Lentine.
(muslim)

