PURUK CAHU, LENTERAKALIMANTAN.NET— Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Murung Raya menegaskan komitmennya dalam memperkuat fondasi sumber daya manusia melalui konsep pendidikan sepanjang hayat (lifelong learning). Langkah ini diambil guna mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki karakter tangguh serta keterampilan praktis yang berakar pada budaya lokal.

Kepala Disdikbud Kabupaten Murung Raya, Putu Suranta, menyatakan proses menuntut ilmu tidak boleh berhenti pada jenjang formal sekolah, melainkan harus berlangsung terus-menerus melalui berbagai pengalaman hidup dan kearifan lingkungan.

“Menuntut ilmu itu dari ayunan hingga liang lahat. Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Ilmu tidak hanya kita dapatkan di bangku sekolah, tetapi juga dari pengalaman hidup, dari kearifan lokal, dari budaya kita sendiri, dan dari lingkungan sekitar kita,” tegas Putu di Puruk Cahu, Rabu (21/10/26)

Menurut Putu, tantangan dunia kerja dan dinamika kehidupan masa depan menuntut adanya keseimbangan antara kepemilikan ijazah, kekuatan karakter, dan penguasaan keterampilan (skill). Tanpa karakter yang solid, keunggulan intelektual dinilai tidak akan memberikan dampak optimal bagi pembangunan daerah.

“Karakteristik seperti kejujuran, disiplin, kerja keras, gotong royong, dan toleransi adalah fondasi utama. Tanpa karakter, kepintaran tidak akan berarti. Selain itu, keterampilan di berbagai bidang, baik itu keterampilan vokasional, kewirausahaan, teknologi, seni, maupun budaya, harus terus diasah sejak dini,” jelasnya.

Guna mewujudkan hal tersebut, Disdikbud Murung Raya secara konsisten menyelaraskan sektor pendidikan dengan kebudayaan lokal. Pendidikan diarahkan agar tetap berakar pada nilai-nilai kearifan setempat, sementara budaya dijadikan sumber belajar yang hidup di lingkungan sekolah.

“Kami ingin anak-anak Murung Raya menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, terampil secara praktis, dan kuat secara karakter serta berbudaya. Mereka harus menjadi pribadi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri sebagai anak Tana Malai Tolung Lingu,” tambah Putu.

Strategi penyelarasan tersebut diturunkan ke dalam sejumlah program operasional di sekolah, seperti penguatan Profil Pelajar Pancasila, optimalisasi kegiatan ekstrakurikuler, pelatihan keterampilan praktis, hingga pelestarian budaya lokal. Melalui jajaran program ini, pemerintah daerah menargetkan lahirnya SDM yang berdaya saing tinggi.

“Teruslah belajar, di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja. Karena dengan ilmu dan karakter yang baik, kita akan mampu membangun diri, keluarga, dan daerah kita tercinta,” pungkas Putu Suranta.

(muslim)