MURUNG RAYA – LENTERAKALIMANTAN.NET-
Perhelatan Sinode Umum XXV Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) 2026 yang berlangsung pada 7–11 Juli 2026 di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, tidak hanya menjadi panggung konsolidasi iman. Momentum berkumpulnya ribuan delegasi dari berbagai penjuru tanah air ini sekaligus menjadi batu ujian bagi ketahanan pangan di wilayah berjuluk Bumi Tana Malai Tolung Lingu tersebut.
Merespons lonjakan kebutuhan pasokan di sela forum akbar itu, Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanik) Kabupaten Murung Raya langsung tancap gas. Kepala Distanik Murung Raya, Sri Karyawati, menegaskan bahwa momentum berskala nasional ini harus menjadi pemicu transformasi sektor pertanian dan peternakan lokal sebagai pilar utama kesejahteraan masyarakat.
“Pertanian adalah penopang kehidupan. Kami berkomitmen memperkuat ketahanan pangan daerah agar masyarakat Murung Raya tidak hanya cukup pangan, tetapi juga sejahtera,” ujar Sri Karyawati kepada wartawan, Senin, 7 Juli 2026.
Menurut Sri, tema besar Sinode GKE tahun ini—‘Hiduplah sebagai terang yang membawa kebaikan, keadilan dan kebenaran’—beririsan langsung dengan misi sosial pemerintah. “Tema tersebut sejalan dengan semangat kami menghadirkan keadilan melalui akses pangan yang layak,” imbuhnya.
Guna memastikan pasokan pangan tidak goyah pasca-sinode dan berlanjut dalam jangka panjang, Distanik Murung Raya telah mengunci empat strategi prioritas:
-
Lumbung Berbasis Komunitas: Mendorong kelompok tani, komunitas gereja, dan pemerintahan desa untuk berkolaborasi mengembangkan hortikultura dan ternak rakyat demi meratakan ketersediaan pangan hingga ke pelosok.
-
Modernisasi dari Hulu ke Hilir: Mengintegrasikan teknologi tepat guna, pengolahan pascapanen, serta membuka akses pasar digital untuk mendongkrak nilai jual produk petani lokal.
-
Sinergi Sektor Keagamaan: Membangun kemitraan taktis dengan GKE dan organisasi keagamaan lainnya melalui program ketahanan pangan berbasis jemaat dan edukasi pertanian berkelanjutan.
-
Uji Nyali SDM: Menggenjot kapasitas para penyuluh dan petani lewat pelatihan adaptasi perubahan iklim serta sertifikasi agar produk lokal mampu menembus pasar global.
Kehadiran ribuan peserta sinode dipandang Sri Karyawati bukan sekadar urusan logistik, melainkan peluang investasi dan promosi gratis bagi komoditas agro unggulan daerah.
“Ini saatnya kita menunjukkan bahwa Murung Raya memiliki potensi besar di sektor agro. Dari tanah inilah lahir pangan, dari kerja keras petani lahir kesejahteraan. Kami siap menjadi mitra strategis untuk mewujudkan ekonomi umat yang mandiri,” kata Sri menegaskan.
Di akhir keterangannya, Sri turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Murung Raya dan seluruh jajaran panitia atas kelancaran agenda logistik dan acara forum tertinggi GKE tersebut.
“Dengan sinergi pemerintah, gereja, dan masyarakat, kami optimis sektor pertanian dan peternakan akan menjadi penggerak utama dalam mewujudkan Murung Raya yang mandiri pangan, berdaya saing, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas,” pungkasnya.











