
PURUK CAHU – LENTERAKALIMANTAN.NET-
Di bawah kepungan ornamen megah khas Dayak dan pendar layar LED raksasa, Kabupaten Murung Raya resmi menjadi episentrum spiritualitas Kalimantan. Sinode Umum XXV Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) Tahun 2026 resmi dibuka pada Senin, 7 Juli 2026. Berpusat di Gedung Futsal dan Halaman Alun-alun Jerah Jorih, Puruk Cahu, forum tertinggi lima tahunan ini bukan sekadar ritus keagamaan biasa, melainkan panggung krusial untuk menentukan arah strategis pelayanan gereja tertua di Borneo tersebut.
Membawa bobot sejarah pelayanan sepanjang 187 tahun sejak 1839, Sinode kali ini mengusung tema teologis yang sarat kritik sosial: “Hiduplah sebagai terang yang membuahkan keadilan dan kebenaran” (Efesus 5:8b-9). Hajatan nasional yang berlangsung selama lima hari (7–11 Juli 2026) ini dihadiri oleh ribuan delegasi, pemuka agama lintas provinsi, jajaran Forkopimda, kepala OPD, hingga seluruh gerbong legislatif yang dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Murung Raya, Rumiadi.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menaruh harapan besar pada hasil sinode ini. Gubernur Kalteng H. Agustiar Sabran, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Wakil Gubernur H. Edy Pratowo, S.Sos., M.M menegaskan posisi GKE yang tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial-politik di Bumi Tambun Bungai.
“Atas nama Pemerintah Provinsi, kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada GKE. Tema sinode ini sangat relevan dengan tantangan zaman. Gereja dipanggil untuk menjadi terang yang menghadirkan keadilan, kebenaran, dan kasih dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa,” tegas Edy Purwanto di hadapan ribuan peserta.
Bagi Pemprov Kalteng, GKE memiliki peran strategis sebagai penentu arah moral sekaligus lem perekat kebhinekaan yang masif di tengah derasnya arus modernisasi dan tantangan wilayah.
Bukan kebetulan Murung Raya dipilih menjadi tuan rumah. Wilayah yang kaya akan akar budaya ini memanfaatkan momentum Sinode XXV untuk mengawinkan nilai-nilai injili dengan hukum adat lokal. Pembukaan acara bahkan dibalut dengan prosesi adat Dayak yang kental dan sakral.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Murung Raya, Dr. Drs. Perdie, M.A, menggarisbawahi bahwa ada napas yang sama antara gerakan gereja dan pergerakan adat di Kalimantan.
“GKE dan adat Dayak memiliki ruh yang sama: menjaga kedamaian, menjunjung keadilan, dan memuliakan kemanusiaan. Kami berharap sinode ini melahirkan keputusan yang memperkuat pelayanan dan mempererat persatuan umat di Bumi Kalimantan,” ujar Perdie membedah filosofi kerukunan lokal.
Di sisi lain, bagi Pemerintah Kabupaten Murung Raya, perhelatan akbar ini adalah investasi politik, budaya, dan ekonomi yang masif. Bupati Murung Raya, Heriyus Midel Yoseph, tidak menyembunyikan rasa bangganya atas kepercayaan yang diberikan kepada daerah yang dipimpinnya tersebut.
“Ini bukan sekadar peristiwa gerejawi. Ini adalah momentum emas untuk memperkenalkan budaya, keramahan, dan semangat kebersamaan masyarakat Murung Raya kepada seluruh Kalimantan dan Indonesia,” ungkap Heriyus optimistis.
Dukungan penuh dari lini legislatif juga terlihat dari hadirnya seluruh anggota DPRD Murung Raya. Ketua DPRD Rumiadi memastikan bahwa seluruh elemen daerah bergerak seirama demi menyukseskan gelaran ini.
Sebagai forum tertinggi, Sinode Umum XXV GKE mengemban mandat berat: merumuskan arah pelayanan, menyusun program kerja emansipatif, dan merespons isu-isu strategis hingga lima tahun ke depan. Di tengah ekspektasi tinggi pemerintah daerah, sinode ini diharapkan mampu mendongkrak citra serta potensi Murung Raya dari tingkat nasional hingga panggung internasional.
Jurnalis : Suara Akar Rumput










