
BANJARMASIN LENTERAKALIMANTAN.NET
Harapan publik Kalimantan Selatan akan turunnya hujan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dipastikan kembali kandas. Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor merilis prospek cuaca mingguan periode 26 Agustus hingga 1 September 2026, yang memprediksi dominasi kondisi cerah hingga berawan tanpa adanya potensi hujan signifikan di sebagian besar wilayah Kalsel.
Kondisi atmosfer yang amat kering ini diperparah oleh melonjaknya suhu udara ekstrim hingga menembus angka 36 derajat Celsius. Rendahnya tingkat kelembapan udara yang menyentuh angka terendah 35 persen kian menyiram minyak pada kobaran karhutla yang terus meluas di kawasan vital.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor, Bayu Kencana Putra, mewakili Kepala Stasiun Ota Welly Jenny Thalo, mengungkapkan bahwa pergerakan angin kencang bertiup dari arah Timur Laut hingga Selatan dengan kecepatan 5–25 kilometer per jam. Dinamika ini amat potensial mempercepat penyebaran titik api (hotspot).
“Untuk prospek cuaca mingguan wilayah Kalimantan Selatan berlaku mulai 26 Agustus sampai 1 September 2026, secara umum kondisi cuaca diprakirakan cerah hingga berawan. Suhu udara diprakirakan berkisar antara 20 sampai 36 derajat Celsius, kelembapan 35 sampai 97 persen,” kata Bayu, Selasa, 25 Agustus 2026.
Dominasi Cuaca Terik dan Terisolasinya Hujan Lokal
Pola cuaca ekstrem ini terbagi dalam dua fase sepanjang sepekan ke depan. Pada periode 26–28 Agustus 2026, kondisi cerah berawan akan membungkus Kalsel bagian utara (Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara), Kalsel bagian selatan (Tanah Laut), serta Kalsel bagian barat yang mencakup wilayah rawan karhutla seperti Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Barito Kuala, Kabupaten Banjar, Banjarmasin, dan Banjarbaru.
Peluang presipitasi amat minim dan terisolasi secara lokal. “Potensi hujan ringan lokal masih dapat terjadi terutama di wilayah bagian timur (Kotabaru dan Tanah Bumbu),” jelas Bayu.
Memasuki fase kedua pada 29 Agustus hingga 1 September 2026, dominasi cuaca terik tanpa awan hujan konsisten bertahan. Potensi hujan ringan lokal hanya bergeser tipis di bagian utara dan timur, sementara wilayah bagian selatan dan barat tetap nihil pasokan air dari langit.
Ancaman Gelombang Pasang dan Bencana Manusia
Kendati BMKG menyatakan nihil peringatan dini cuaca ekstrem atau gelombang tinggi laut, ancaman lain mengintai masyarakat pesisir. BMKG mengimbau warga kawasan pesisir untuk mewaspadai potensi pasang air laut maksimum (rob) di Perairan Kotabaru yang diprediksi terjadi pada 27 Agustus hingga 1 September 2026.
Pasang maksimum tersebut diprakirakan terjadi saban hari pada pukul 06.00–08.00 WITA dan 19.00–21.00 WITA, dengan ketinggian puncak mencapai 2,7 meter.
Mengingat tipisnya peluang rekayasa cuaca akibat tiadanya awan potensi hujan, BMKG mengingatkan bahwa keselamatan lingkungan kini sepenuhnya bergantung pada perilaku manusia di darat. Kelalaian kecil dinilai dapat memicu Bencana Ekologis yang kian meluas.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah dan membuang puntung rokok sembarangan, serta menghindari praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar,” imbau Bayu(mckalsel/lnk).

