
PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Di tengah menguatnya isu krisis pangan global, masyarakat Dayak di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, telah lama memegang kunci ketahanan pangan berbasis kearifan lokal. Lewat tradisi Handep Manugal—ritual gotong royong menanam padi gunung—mereka mempraktikkan kolaborasi lintas generasi yang kini dipadukan dengan pendampingan pertanian modern.
Karakter utama Handep Manugal berakar pada falsafah Handep Habaring Hurung, prinsip hidup berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Tradisi ini menuntut keharmonisan penuh antara manusia, alam, dan Sang Pencipta melalui serangkaian aturan adat yang ketat.
Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Murung Raya, Sri Karyawati, menjelaskan prosesi menugal tidak bisa dilakukan sembarangan karena melibatkan etika serta sejarah panjang.
“Ada berbagai macam tahapan sakral di dalamnya. Ini bukan asal tugal. Ada sejarah, ada tata tertib, ada etika. Mulai dari pemilihan benih padi terbaik oleh tetua adat, ritual Mamapas Lewu untuk memohon restu, hingga aturan siapa yang berhak membuka lubang tanam pertama. Itu semua mengandung pesan: hargai alam, hargai sesama, hargai proses,” kata Sri Karyawati.
Dalam pelaksanaannya, seluruh warga memiliki kesetaraan peran tanpa memandang status sosial. Pria bertugas membuat lubang tanam menggunakan kayu tugal, sementara wanita menyebar benih ke dalam tanah.
“Kami berharap kedepannya, Handep Manugal ini jangan hanya menjadi tontonan wisata, tapi menjadi tuntunan. Menjadi gerakan moral untuk anak muda Murung Raya agar tidak malu menjadi petani. Petani itu adalah profesi mulia, penjaga perut bangsa,” ujar Sri.
Pemerintah Kabupaten Murung Raya kini mengadopsi nilai gotong royong tersebut ke dalam program penyuluhan. Pendekatan agronomi modern—seperti penggunaan pupuk organik, pengaturan jarak tanam, dan pengendalian hama alami—diselaraskan dengan kalender adat serta doa para tetua kampung.
Model kolaborasi ini memposisikan petugas penyuluh bukan sebagai instruktur yang menggurui, melainkan sebagai mitra dialog bagi para petani lokal.
“Petani kita adalah profesor di ladangnya sendiri. Mereka telah membaca alam jauh sebelum ada buku pertanian. Tugas kami adalah merawat dedikasi itu, memberikan sedikit sentuhan teknologi agar padi gunung kita semakin produktif tanpa merusak tanah,” tutur Sri Karyawati.
Melalui integrasi antara sains pertanian dan nilai spiritual Handep Manugal, Murung Raya tidak hanya merawat warisan leluhur Borneo, tetapi juga membangun fondasi kemandirian pangan yang berkelanjutan dari kawasan perbukitan.
(Muslim)

