
KALSEL LENTERAKALIMANTAN.NET
Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Selatan (Dispar Kalsel) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Pemaparan Laporan Akhir Hasil Penelitian dan Analisis Pasar Pariwisata dari 13 kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan di Aula Dispar Kalsel, Banjarmasin, Selasa (13/10/2026). Kegiatan yang bekerja sama dengan Akademi Pariwisata Nasional (Akparnas) ini ditujukan untuk merumuskan strategi pengembangan pariwisata daerah yang berkelanjutan.
Forum ini menghadirkan perwakilan dinas pariwisata dari 13 kabupaten/kota serta enam asosiasi industri pariwisata daerah, di antaranya Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA), dan Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia (ASPPI).
Kepala Dispar Kalsel, Iwan Fitriady, menjelaskan riset berbasis analisis SWOT ini memetakan indeks keberlanjutan pariwisata dengan menggunakan pendekatan formula 4A+1P: Accessibility (aksesibilitas), Attraction (atraksi), Amenity (fasilitas), Ancillary (layanan pendukung), dan Promotion (promosi).
“Pariwisata berkelanjutan berarti sektor ekonomi tumbuh, sementara alam dan lingkungan tempat objek wisata berada tetap terjaga serta lestari. Kita optimistis sektor pariwisata mampu menjadi penopang utama ekonomi daerah jangka panjang, khususnya saat sektor ekstraktif seperti pertambangan mulai terbatas,” ujar Iwan, Selasa (13/10/2026).
Iwan menambahkan, penguatan kualitas pelayanan, keramahtamahan (hospitality), serta integrasi kerja sama antara Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pemerintah daerah, dan agen perjalanan menjadi pilar utama kemajuan destinasi.
Sementara itu, Direktur Akparnas, Dewi Setiawati, menyoroti sejumlah tantangan teknis di lapangan, seperti penyediaan homestay, toilet layak, serta tata kelola sampah di Objek Daya Tarik Wisata (ODTW). Pihaknya merekomendasikan Pemprov Kalsel untuk memprioritaskan pengembangan destinasi unggulan secara bertahap, meningkatkan kapasitas SDM lokal, dan memperkuat sosialisasi penerapan Sapta Pesona(mckalsel/lnk).

