PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Kabupaten Murung Raya bersiap menghadapi ujian krusial sebagai episentrum toleransi dan diplomasi budaya di Kalimantan. Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Susilo, menegaskan bahwa perhelatan Sinode Umum XXV Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) yang akan digelar di Puruk Cahu pada tahun 2026 bukan sekadar ritual keagamaan lima tahunan biasa. Agenda skala regional ini menjadi panggung pembuktian kesiapan daerah dalam menyajikan wajah Indonesia yang damai, religius, sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal.
“Ini agenda besar berskala regional. Kita tidak hanya menjamu tamu, kita sedang memperkenalkan Murung Raya ke publik yang lebih luas. Infrastruktur, akomodasi, layanan kesehatan, keamanan, hingga informasi publik harus disiapkan dengan standar terbaik,” ujar Susilo pada Sabtu, 4 Juli 2026.
Sebagai forum tertinggi pengambilan keputusan gerejawi, Sinode Umum GKE XXV diproyeksikan bakal menyedot ribuan peserta dari seluruh wilayah pelayanan GKE se-Kalimantan hingga luar daerah. Mengantisipasi gelombang kedatangan tersebut, Susilo mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Murung Raya yang langsung turun ke lapangan untuk memeriksa titik-titik krusial.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah pengecekan langsung ke rest area Kilometer 52 di Desa Sei Rahayu, Barito Utara. Titik ini merupakan lokasi transit strategis bagi para peserta yang menempuh jalur darat.
Menurut Susilo, kesan pertama para tamu dimulai sejak mereka berada di perjalanan. “Rest area yang bersih, aman, dan manusiawi adalah cerminan keramahan kita. Sebelum tiba di Puruk Cahu, tamu sudah merasakan bahwa Murung Raya adalah rumah yang peduli,” tegasnya.
Dari kacamata strategis, Susilo membedah dampak pelaksanaan Sinode ini ke dalam dua dimensi besar:
-
Dimensi Spiritual & Sosial: Menjadi ruang krusial untuk penguatan iman, mempererat persaudaraan, serta mengokohkan persatuan umat GKE.
-
Dimensi Ekonomi & Budaya: Bertindak sebagai katalisator ekonomi daerah dan wadah diplomasi budaya.
Kedatangan ribuan orang dalam waktu bersamaan diyakini akan memberikan efek domino (multiplier effect) bagi sektor riil yang sempat lesu.
“Ketika ribuan orang datang, UMKM kita hidup. Kuliner lokal dikenal. Jasa transportasi, penginapan, dan ekonomi kreatif bergerak. Ini kesempatan emas Murung Raya menampilkan potensi, budaya, dan kearifan lokal kepada Kalimantan bahkan Indonesia,” jelas Susilo secara rinci.
Menutup keterangannya, Susilo mengimbau seluruh lapisan masyarakat Murung Raya untuk menyatukan derap langkah, bergotong-royong, dan mengedepankan semangat toleransi tinggi demi menyukseskan acara bersejarah ini. Penunjukan Puruk Cahu sebagai tuan rumah tahun 2026 mencetak sejarah baru bagi kabupaten ini dalam mengelola event keagamaan masif di Kalimantan Tengah.
Ia memastikan bahwa DPRD Murung Raya tidak akan tinggal diam dan siap memberikan dukungan penuh secara kelembagaan kepada pemerintah daerah.
“Kita adalah tuan rumah. Mari sambut dengan senyum, dengan pelayanan tulus, dan dengan hati terbuka. Jaga keamanan, jaga ketertiban, jaga nama baik daerah,” pesannya. “Melalui Sinode ini kita buktikan: Murung Raya mampu menjadi rumah bersama yang harmonis. Rumah yang damai, religius, dan menjadi contoh kerukunan bagi Indonesia.”











