MURUNG RAYA —LENTERAKALIMANTAN.NET Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Murung Raya mendesak pemerintah daerah dan tokoh masyarakat untuk memperkuat pengelolaan potensi seni dan budaya lokal. Seni tak boleh lagi dipandang sebatas hiburan, melainkan harus ditransformasikan menjadi identitas daerah dan motor penggerak ekonomi kreatif yang berdaya saing global.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Murung Raya, H. Johansyah, menegaskan pencapaian seni di tingkat daerah merupakan manifestasi kearifan lokal yang wajib dibina secara berkelanjutan agar tidak tergilas arus modernisasi.

“Prestasi dalam dunia seni merupakan satu kearifan lokal yang harus kita jaga, kita bina, dan harus memiliki daya tarik serta daya saing yang menantang. Seni Murung Raya tidak boleh hanya jalan di tempat,” kata Johansyah saat dihubungi pada Kamis, 22 Oktober 2026.

Menanggapi pesatnya arus globalisasi, Johansyah mengimbau generasi muda di Murung Raya agar tidak sekadar menjadi penonton, melainkan mengambil peran aktif sebagai kreator karya berkarakter dan orisinal.

“Pastikan kehadiran kita di era modernisasi ini bukan cuma tampil sebagai penonton, melainkan kita adalah pemeran yang berani tampil beda atas pemikiran dan ide cemerlang kita sendiri, bukan memetik dari hasil karya orang lain. Kita harus orisinal, kreatif, dan berani menunjukkan karya kita sendiri,” ujar politikus yang dikenal dekat dengan kalangan pemuda tersebut.

Guna mewujudkan pemerataan kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga ke wilayah pelosok, Komisi II DPRD Murung Raya mendorong penerapan target pencetakan bibit unggul secara terstruktur di tingkat desa.

Johansyah mengusulkan agar setiap desa memiliki program pembinaan yang terukur untuk melahirkan minimal tiga siswa berprestasi setiap tahunnya, baik di bidang seni, budaya, olahraga, maupun akademik.

“Mengingat setiap daerah memiliki potensi yang luar biasa, sudah seharusnya setiap desa memiliki minimal 3 siswa terbaik dalam 1 desa dalam 1 tahun (…). Ini penting untuk memetakan dan melahirkan bibit-bibit unggul dari akar rumput,” jelasnya.

Skema percontohan ini dinilai krusial untuk membuka akses dan kesempatan setara bagi pemuda desa di seluruh pelosok Murung Raya. Langkah ini juga diproyeksikan sebagai basis pemetaan talenta daerah secara berkala.

“Jika setiap desa mampu melahirkan 3 siswa terbaik setiap tahunnya, maka dalam beberapa tahun ke depan Murung Raya akan memiliki ratusan generasi emas yang siap bersaing di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional. Inilah investasi jangka panjang untuk pembangunan daerah,” tutur Johansyah.

(Muslim)