BANJARMASIN —  LENTERAKALIMANTAN.NET-

Di tengah tantangan ekosistem perairan sungai, sekelompok mahasiswa membawa angin segar ke Asrama Yatim Rumah Harapan Piere Tendean, Kota Banjarmasin. Sebanyak 11 anak panti asuhan tampak antusias mengikuti edukasi lingkungan hidup dan kesehatan yang dikemas secara interaktif pada Sabtu (31/10/2026).

Kegiatan yang diinisiasi oleh lima orang mahasiswa ini tidak hanya mengajarkan teori kebersihan, tetapi juga memperkenalkan solusi kreatif pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal, mulai dari pemanfaatan gulma hingga pencegahan demam berdarah secara langsung.

Acara yang berlokasi di asrama yang terletak di samping Polsek Banjarmasin Selatan, Jalan Kapten Piere Tendean, Kelurahan Sungai Baru, Kecamatan Banjarmasin Tengah ini diawali dengan sesi perkenalan hangat. Tim pengajar membangun kedekatan emosional sebelum masuk ke inti materi mengenai kebersihan lingkungan, pengelolaan sampah, serta pentingnya menjaga ketersediaan air bersih.

Daya tarik utama kegiatan ini terletak pada pemanfaatan tanaman purun—sejenis gulma air yang kerap dianggap pengganggu ekosistem perairan.

“Tanaman purun yang tumbuh subur di perairan sungai jika mengalami overpopulasi dapat mengganggu aktivitas transportasi dan perikanan masyarakat. Melalui pemanfaatan menjadi produk kriya seperti tas purun, keseimbangan ekosistem perairan dapat tetap terjaga sekaligus bernilai guna tinggi,” ujar perwakilan tim pengajar menjelaskan konsep ekonomi kreatif berbasis ekologi tersebut.

Selain isu sampah dan kerajinan, fokus materi juga diarahkan pada ancaman kesehatan lingkungan, khususnya pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Pemateri mengedukasi anak-anak mengenai bahaya lingkungan kotor sebagai sarang nyamuk melalui ilustrasi siklus hidup nyamuk, mulai dari fase telur, jentik-jentik (larva), pupa, hingga nyamuk dewasa.

Untuk memberikan pengalaman belajar yang konkret, tim pengajar membawa sampel botol transparan berisi jentik-jentik nyamuk hidup. Peserta diajak menyaksikan langsung simulasi pemusnahan jentik menggunakan bubuk larvasida Abate, guna menanamkan pemahaman bahwa memutus rantai penularan sejak fase larva jauh lebih efektif daripada memberantas nyamuk dewasa.

Suasana belajar berlangsung dinamis dan penuh kegembiraan. Di sela-sela pemaparan materi, tim pengajar menyisipkan dua sesi ice breaking yang menguji fokus peserta. Antusiasme 11 anak panti semakin membara berkat adanya distribusi hadiah menarik, mulai dari jajanan, alat tulis, hingga permainan edukatif bagi mereka yang aktif merespons.

Sebagai bentuk evaluasi dan penguatan pemahaman, kegiatan ditutup dengan sesi refleksi. Dua anak yang berani maju dan memaparkan kembali poin-poin penting pembelajaran diganjar hadiah apresiasi khusus. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama, meninggalkan kesan mendalam serta dorongan semangat bagi para santri untuk terus menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar.

Jurnalis: Muhammad Abdul Aziz