
PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Arus deras modernisasi dan kebebasan berpendapat di media sosial memicu perhatian serius dari pimpinan legislatif Kabupaten Murung Raya. Ketua DPRD Kabupaten Murung Raya, Rumiadi, menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk meningkatkan kedewasaan digital serta memperkuat kebudayaan gotong royong guna menjaga kondusivitas daerah di tengah kepungan disinformasi.
Seruan tersebut disampaikan Rumiadi di Puruk Cahu saat menyoroti dinamika komunikasi publik saat ini. Menurutnya, literasi digital yang memadai dan kedewasaan bersikap menjadi kunci utama agar masyarakat tidak terjebak dalam jebakan hoaks yang berpotensi memecah belah, terutama pada isu-isu krusial.
Rumiadi menekankan pentingnya proses penyaringan (filtering) informasi secara ketat sebelum dikonsumsi atau disebarluaskan oleh masyarakat. Sektor-sektor strategis seperti politik, bisnis, hingga dinamika kewirausahaan menjadi area yang sangat rentan terhadap dampak kekeliruan informasi.
“Kita semua punya hak untuk bertanya dan juga menjawab pertanyaan. Namun sebelum menyebarluaskan informasi, baik di segi politik, bisnis, dan kewirausahaan, hendaklah dikaji lebih matang agar tidak terjadi kejanggalan dalam penyampaian dan juga bagi yang menerima informasi,” ujar Rumiadi, Kamis (27/8)
Ia mengingatkan bahwa kelalaian dalam menyebarkan informasi yang belum terverifikasi membawa dampak hukum maupun sosial yang serius. Kecerobohan di dunia digital tidak bisa diselesaikan sekadar dengan ucapan penyesalan.
“Di setiap tindakan sudah jelas ada konsekuensi sebagai risiko, baik risiko besar maupun kecil. Karena itu kita harus cerdas dan bijak. Penyesalan seringkali datang lewat pintu belakang. Kata maaf saja tidak cukup untuk membayar satu kesalahan yang terjadi akibat kelalaian yang bersifat sengaja,” tegasnya.
Secara khusus, pesan ini ditujukan kepada generasi muda di Murung Raya. Sebagai kelompok yang paling aktif berinteraksi dengan teknologi informasi, pemuda diharapkan mampu tampil sebagai agen perubahan yang mengedepankan empati dan keharmonisan sosial.
“Jadilah masyarakat yang harmonis, saling melengkapi, saling peduli, dan saling memahami kondisi dan situasi,” tutur Rumiadi.
Di sisi lain, Rumiadi menegaskan bahwa benteng pertahanan terbaik dalam menghadapi dampak negatif era modernisasi adalah akar budaya lokal. Ia mengajak masyarakat Bumi Tana Malai Tolung Lingu untuk terus memegang teguh nilai gotong royong melalui falsafah luhur suku Dayak.
“Peliharalah budaya gotong royong sebagai lambang Dayak ‘Ije Simpei Manggatang Utus Maangkat Umang’. Kita hidup di atas Bumi Tana Malai Tolung Lingu, dimana yang satu sedang merasa bersedih hendaklah kita semua merasakan apa yang saudara kita rasakan, begitupun sebaliknya,” ucapnya.
Menurut Rumiadi, kepedulian sosial yang berlandaskan falsafah tersebut merupakan fondasi utama untuk membangun ketangguhan masyarakat Murung Raya, sekaligus memastikan kemajuan daerah tetap berjalan berdampingan dengan kelestarian jati diri budaya.
(Muslim)

