MURUNG RAYA, LENTERAKALIMANTAN.NET —

Kemarau panjang yang menyurutkan debit air Sungai Barito di wilayah Kecamatan Barito Tuhup Raya, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, kembali menyingkap tabir sejarah kolonial. Bangkai kapal perang peninggalan era Belanda yang dikenal warga lokal sebagai Kapal “Cinta Budiman” kembali menyembul ke permukaan dasar sungai.

Penampakan bangkai kapal besi ini mencuat ke publik setelah foto-fotonya viral di media sosial. Kehadirannya bukan sekadar fenomena alam tahunan, melainkan artefak fisik yang merekam jejak perlawanan sengit pejuang Dayak dalam mencegat armada militer kolonial di jalur urat nadi transportasi Kalimantan masa lalu.

M. Ridani, warga setempat yang pertama kali membagikan dokumen visual penampakan kapal tersebut, menuturkan bahwa bangkai kapal ini hanya bisa diakses secara kasat mata ketika kemarau ekstrem melanda kawasan tersebut.

“Sayangnya keberadaan kapal eks Belanda tersebut berada di dasar Sungai Barito. Hanya pada musim kemarau panjang baru bisa dilihat oleh warga sekitar,” ujar pria yang akrab dipanggil Dani itu pada, Sabtu (29/8)

Bagi masyarakat lokal di Bumi Tana Malai Tolung Lingu, artefak tersebut memicu ingatan kolektif atas taktik perang gerilya air para leluhur mereka dalam melumpuhkan pasukan elite militer Belanda. Nama kapal itu sendiri berkelindan erat dengan identitas Kampung Cinta Budiman di tepian Sungai Barito.

“Hal tersebut sudah jelas mengingatkan kita semua betapa besarnya perjuangan para pejuang Dayak Kalimantan Tengah. Tak bisa kita bayangkan entah bagaimana caranya mereka bisa mencegat satu pasukan elite Belanda,” tutur Dani.

Secara historis dan akademis, penemuan artefak di jalur Sungai Barito ini dinilai memiliki tiga potensi strategis:

  1. Pusat Edukasi & Riset: Menjadi bukti fisik berbasis arkeologi sungai untuk memetakan kembali strategi perang air masyarakat Dayak melawan penjajah.

  2. Cagar Budaya & Wisata Sejarah: Menjadi destinasi edukatif bernilai tinggi yang memperkuat identitas kewilayahan Murung Raya.

  3. Penguat Identitas Kolektif: Menghubungkan generasi muda dengan sejarah lokal Kalimantan Tengah.

Kendati memiliki nilai histori yang substansial, objek dugaan cagar budaya ini belum tersentuh tindakan konservasi maupun penelitian sistematis dari pihak berwenang. Cerita keberanian warga lokal mengadang kapal perang kolonial tersebut terancam hilang atau rusak tergerus arus sungai jika tidak segera diselamatkan.

Warga mendesak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta lembaga purbakala terkait untuk segera turun ke lapangan melakukan kajian arkeologi bawah air (underwater archaeology), pendataan resmi, serta langkah penyelematan fisik.

“Jangan sampai cerita tentang Kapal Cinta Budiman hanya tinggal cerita. Mari kita rawat, kita dokumentasikan, agar anak cucu kita tahu bahwa di sungai ini pernah ada sejarah besar yang diperjuangkan dengan darah dan air mata,” pukas Dani.

(Muslim)