
PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Tanpa tabung oksigen maupun pelindung diri, sejumlah nelayan di Kabupaten Murung Raya nekat menyelam ke dasar Sungai Barito yang mengering pada musim kemarau ini. Aksi berbahaya tersebut terpaksa dilakukan demi membersihkan karang serta ranteng kayu yang mengancam mata pencaharian utama masyarakat pesisir Kalteng tersebut.
Aksi gotong royong bawah air ini menjadi rutinitas tahunan para nelayan tradisional untuk menjaga alat tangkap mereka—seperti jaring dan jala—tetap utuh saat debit air menyusut drastis pada Senin, 24 Agustus 2026.
Pelaku usaha jaring dan jala setempat, Waldi, mengungkapkan bahwa langkah ekstrem ini adalah investasi mandiri nelayan demi menyambung hidup dan menjaga ekosistem perairan tetap produktif.
“Kegiatan ini sudah lumrah kami lakukan hampir di setiap musim kemarau. Tujuannya untuk membersihkan karang dan akar kayu di dasar sungai agar jaring dan jala tidak rusak. Upaya ini kami kerjakan bersama rekan nelayan lainnya, meskipun terkadang kami harus menyelam tanpa perlengkapan,” ujar Waldi saat ditemui di bantaran Sungai Barito.
Namun, inisiatif swadaya masyarakat akar rumput ini dinilai belum sebanding jika tak diimbangi oleh kehadiran regulasi dan proteksi dari pemangku kebijakan. Nelayan mendesak Pemerintah Kabupaten Murung Raya untuk turun tangan melalui program pemberdayaan, bantuan sarana prasarana, hingga pelatihan penangkapan ikan yang ramah lingkungan.
Tumpuan perekonomian keluarga nelayan Barito kini berada di persimpangan jalan, terutama akibat ancaman maraknya praktik ilegal seperti penangkapan ikan menggunakan racun dan setrum.
“Kami berharap pemerintah daerah Kabupaten Murung Raya, melalui dinas instansi terkait, dapat bersinergi dengan kami. Dukungan dalam bentuk pemberdayaan, sarana prasarana, maupun pelatihan sangat kami perlukan. Mengingat menjaring dan menjala ikan adalah tumpuan utama perekonomian keluarga kami, baik di musim kemarau maupun saat musim air pasang,” tegas Waldi.
Ia menambahkan, perlindungan ekosistem berbasis penegakan hukum merupakan fondasi mutlak bagi keberlanjutan perikanan tangkap lokal.
“Kami juga berharap adanya kepastian hukum dan pengawasan yang berkelanjutan di aliran Sungai Barito. Dengan demikian praktik yang merusak seperti penggunaan racun dan setrum ikan dapat dicegah. Hal ini penting agar sumber daya perikanan tidak habis dan keadilan bagi nelayan tradisional dapat terwujud,” pungkasnya.
Langkah nelayan Murung Raya menunjukkan bahwa ketahanan pangan daerah berakar pada kearifan lokal masyarakatnya. Namun, tanpa intervensi kebijakan yang tegas dari Pemda Murung Raya, daya tahan ekologis dan ekonomi nelayan kecil di sepanjang aliran Barito berisiko tergerus dalam jangka panjang.

