
BANJARMASIN — LENTERAKALIMANTAN.NET
Masyarakat adat Dayak Paramasan di Desa Paramasan Bawah, Kecamatan Paramasan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kembali menggelar ritual sakral tahunan Aruh Ganal Balai Induk. Tradisi peninggalan leluhur suku Dayak Meratus yang berlangsung khidmat sejak Minggu, 31 Agustus 2026, ini menjadi simpul penting dalam menjaga solidaritas sosial sekaligus benteng kedaulatan pangan lokal di tengah dinamika modernisasi.
Aruh Ganal—salah satu upacara adat terbesar bagi warga Dayak Meratus—berfungsi sebagai manifestasi spiritual atas keberhasilan pertanian warga. Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (PD AMAN) Kabupaten Banjar, Robby, menegaskan bahwa esensi utama dari ritual ini adalah memanjatkan rasa syukur kepada Nining Bahatara (Sang Pencipta) atas limpahan hasil panen padi sepanjang tahun.
“Melalui Aruh Ganal di Balai Induk ini, kami menyampaikan terima kasih kepada Nining Bahatara atas berkah panen yang melimpah. Sekaligus, ritual ini menjadi ruang bagi kami untuk memohon berkah agar pada musim tanam berikutnya tanah kami diberikan kesuburan, hasil yang melimpah, dan keselamatan bagi seluruh warga,” ujar Robby pada Jumat, 4 September 2026.
Selain sebagai ritual agraris, Robby menjelaskan bahwa perhelatan ini membawa misi tolak bala. Warga memohon perlindungan spiritual agar komoditas pangan mereka pada musim tanam mendatang terbebas dari ancaman hama, penyakit tanaman, serta potensi marabahaya yang mengintai ketahanan pangan komunitas.
Di luar dimensi spiritual dan ekologis, Aruh Ganal berfungsi sebagai ruang konsolidasi sosial. Balai adat menjadi wadah interaksi di mana anggota komunitas merawat nilai-nilai gotong royong dan menjaga eksistensi hukum adat di pedalaman Kalimantan Selatan. “Tradisi Aruh Adat ini terbukti ampuh dalam mempererat kebersamaan kita. Ini adalah sarana berkumpul yang nyata untuk memperkuat solidaritas, keharmonisan, serta semangat gotong royong antarwarga komunitas di balai adat,” kata Robby.
Pelaksanaan ritual ini turut menarik perhatian dan dukungan dari berbagai pihak eksternal, termasuk Dewan Pimpinan Pusat Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (DPP FKPWK). Lembaga ini menilai penyelenggaraan Aruh Ganal penting untuk merawat identitas budaya lokal Kalimantan.
“Kami sangat mendukung penuh penyelenggaraan acara-acara cagar budaya dan gerakan pelestarian adat Dayak di Kalimantan, khususnya di wilayah Kalimantan Selatan,” ujar Adv. HR. Fadillah, S.H.
Senada dengan Fadillah, Pembina FKPWK H. Junaidi menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan tradisi lokal ini agar tidak tergerus zaman. “Upacara seperti ini bukan sekadar seremoni, melainkan warisan leluhur yang menjaga keseimbangan alam dan keharmonisan sosial yang tidak boleh punah ditelan zaman,” tutur Junaidi.
Keberlangsungan Aruh Ganal di Paramasan Bawah menjadi bukti bahwa kedaulatan masyarakat adat, solidaritas komunal, dan pelestarian cagar budaya Nusantara masih terjaga secara konsisten di kawasan pegunungan Meratus.

