
PURUK CAHU, LENTERAKALIMANTAN.NET— Kombinasi kemarau panjang dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu krisis air bersih parah di Desa Tumbang Masao, Kecamatan Sumber Barito, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Memasuki awal September 2026, sumber mata air warga mengering, sementara aliran sungai yang tersisa tercemar abu karhutla hingga berubah warna menjadi menghitam dan kekuningan.
Kondisi ini memaksa warga di wilayah pedalaman tersebut mengonsumsi air Sungai Barito yang tidak layak minum akibat keterbatasan ekonomi. Dampak paling krusial dirasakan oleh kelompok rentan, mulai dari lanjut usia (lansia), ibu hamil, hingga anak-anak balita.
Hadini, warga Desa Tumbang Masao, mengungkapkan bahwa kelangkaan air bersih kini sudah mengganggu stabilitas Sanitasi dan kebutuhan mendasar warga harian.
“Bukan sekadar untuk kepentingan memasak, mencuci, dan konsumsi, tetapi jarak tempuh yang semakin jauh membuat warga kesulitan air. Lansia, ibu hamil, dan anak balita yang biasanya mandi tiga kali sehari, kini satu kali sehari pun susah,” kata Hadini saat berdiskusi dengan warga setempat, Sabtu (5/9/26)
Ia menambahkan, warga sempat bertahan tanpa mengeluh pada awal musim kemarau. Namun, situasi kian memburuk setelah sumber air bersih utama habis total dan harga air kemasan tak terjangkau oleh kantong masyarakat setempat.
“Saat ini sebagian besar warga sudah mengonsumsi air dari Sungai Barito. Walaupun kami tahu airnya tidak layak untuk diminum, apa boleh buat karena kami tidak mampu membeli stok air minum kemasan,” tuturnya.
Krisis air di pedalaman Sumber Barito ini kian kompleks lantaran paparan abu dan debu akibat sisa karhutla di sekitarnya. Material tersebut terbawa angin dan mengendap di permukaan sungai, memperburuk kualitas sisa air dangkal yang ada.
Mewakili masyarakat pedalaman, Hadini mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Murung Raya, DPRD, serta dinas teknis terkait untuk segera turun tangan menyalurkan bantuan darurat.
“Kami berharap ada perhatian dan solusi nyata buat kami yang berada di pedalaman ini,” ujar Hadini.

