PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET Alunan ritual sakral Totoh Numbeng kembali bergema di Desa Dirung, Kecamatan Murung, Kabupaten Murung Raya, Selasa, 29 September 2026. Upacara adat masyarakat Dayak Siang ini memikat perhatian publik, tak terkecuali anggota Komisi III DPRD Kabupaten Murung Raya dari Fraksi Gerindra, Sutrisno, yang hadir langsung mengawal pelestarian tradisi luhur tersebut.

Bagi masyarakat Dayak Siang, Totoh Numbeng memegang kedudukan spiritual yang setara dengan upacara Tiwah pada tradisi Dayak Ngaju, yakni ritual suci untuk menghormati sekaligus mengantarkan arwah leluhur menuju alam keabadian. Uniknya, ritual ini tidak terikat jadwal waktu tertentu. Pelaksanaannya bersifat fleksibel—dapat ditunda hingga keluarga ahli waris mencapai kesiapan finansial, kesepakatan adat, serta kehadiran seluruh anggota keluarga.

Secara terstruktur, prosesi sakral ini melintasi tiga tahapan utama:

1.Ngehak Hino: Tahap awal yang dilakukan pascapemakaman.

Bopura Baun Tungkang: Rangkaian lanjutan menjelang upacara inti.

3.Somalat Pandung Kaju: Tahap persiapan akhir sebelum puncak ritual Totoh Numbeng.

Berbagai perlengkapan adat serta hewan kurban seperti ayam, babi, hingga kerbau disiapkan. Dalam ritual ini, kerbau memegang peran sentral yang dipercaya sebagai kendaraan spiritual perantara pengantar arwah menuju alam baka.

Secara historis, ritual ini membawa pencerahan peradaban. Sebelum masa kemerdekaan, Suku Dayak mengenal tradisi Ngayau (perburuan kepala manusia). Seiring berkembangnya kesadaran kemanusiaan dan nilai-nilai peradaban, praktik kelam tersebut telah ditanggalkan sepenuhnya dan digantikan oleh pengorbanan kerbau sebagai wujud penghormatan yang beradab dan penuh makna.

Kehadiran Sutrisno di tengah warga menjadi wujud nyata dukungan lembaga legislatif dalam menjaga identitas serta kekayaan budaya daerah agar tak tergerus zaman.

“Ritual Totoh bukan sekadar penghormatan kepada leluhur, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya, kebersamaan, dan spiritualitas yang diwariskan nenek moyang. Masyarakat Dayak Siang menunjukkan komitmen luar biasa dalam menjaga warisan ini, dan kita semua bertanggung jawab untuk melestarikannya,” tegas Sutrisno di lokasi acara.

Ia juga menegaskan pentingnya benteng kebudayaan bagi generasi muda di tengah gempuran modernisasi. Menurut Sutrisno, pelestarian warisan luhur tidak bisa hanya dibebankan kepada masyarakat adat semata, melainkan menuntut keterlibatan aktif pemerintah, dunia akademik, hingga seluruh elemen masyarakat.

Upacara yang berlangsung khidmat ini dihadiri oleh para tokoh adat, warga setempat, serta jajaran unsur pemerintahan. Keberlanjutan Totoh Numbeng membuktikan kearifan lokal di Murung Raya tetap berdenyut kuat—bukan hanya milik Dayak Siang, melainkan aset kebudayaan yang memperkokoh identitas bangsa.
(Muslim)