Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Murung Raya, Sutrisno, S.T
PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Memasuki musim bercocok tanam padi ladang atau yang dikenal dalam bahasa Dayak sebagai musim Nugal (Nukan), seruan untuk merawat nilai-nilai tradisi kembali menggema di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Masyarakat diajak untuk tidak sekadar menanam padi, tetapi juga menyalakan kembali api semangat Handep Haduhup—tradisi luhur gotong royong bahu-membahu yang menjadi fondasi sosial warga lokal.
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Murung Raya, Sutrisno, S.T., menegaskan di tengah arus modernisasi, pola kerja bersama secara sukarela ini adalah kunci utama untuk mereduksi beban para petani tradisional di Bumi Tana Malai Tolung Lingu.
“Hidupkan kembali Handep Haduhup. Budaya gotong royong ini adalah warisan leluhur kita yang sangat mulia. Mari kita saling membantu, saling menopang dalam musim Nugal ini,” ujar Sutrisno saat memberikan keterangannya di Puruk Cahu, Jumat (02/10/26)
Sistem pertanian ladang di Murung Raya kerap berhadapan dengan kendala topografi dan luas lahan yang menuntut tenaga kerja tidak sedikit. Dalam kalkulasi tradisi lokal, metode Nugal—yakni melubangi tanah dengan kayu tajam untuk menanam benih padi—akan memakan waktu panjang jika dikerjakan secara individual.
Melalui prinsip Handep Haduhup, pengerjaan ladang dilakukan secara bergiliran dari satu ladang warga ke ladang warga lainnya. Efisiensi kerja komunal inilah yang menurut Sutrisno menjadi jawaban praktis atas tantangan fisik di lapangan.
“Seberapa besarnya lahan dan seberapa beratnya tugas dan pekerjaan, apabila dihadapi dengan semangat kebersamaan, kita yakin insya Allah bisa selesai dalam waktu yang singkat. Inilah kekuatan kita sebagai masyarakat Murung Raya yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan,” tegas Politisi Murung Raya tersebut.
Secara sosiologis, tradisi Nugal tidak sebatas aktivitas agronomi untuk mengamankan ketahanan pangan keluarga. Momen ini berfungsi sebagai ruang interaksi sosial antarwarga desa—tempat bertukar kabar, mempererat tali silaturahmi, hingga mentransfer pengetahuan lokal antar-generasi.
Di tengah gempuran individualisme, merawat Handep Haduhup pada musim Nugal tahun ini menjadi momentum strategis untuk merawat modal sosial masyarakat akar rumput agar tetap solid dan berdaya.
(Muslim)


