
PURUK CAHU, LENTERAKALIMANTAN.NET —
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Murung Raya, Rumiadi, mendesak Pemerintah Kabupaten Murung Raya memperluas penguatan literasi sains di seluruh jenjang sekolah. Langkah ini dinilai mendesak untuk membentuk pola pikir kritis, logis, dan analitis pelajar di tengah maraknya disinformasi serta tantangan pengelolaan sumber daya alam daerah.
Apresiasi dan dorongan tersebut disampaikan Rumiadi menyusul keberhasilan penyelenggaraan Festival Literasi Murid SMP 2026. Menurut politikus berlatar belakang hukum dan ekonomi ini, keberhasilan literasi baca-tulis harus segera dilanjutkan ke tahap literasi sains sebagai dasar penguasaan teknologi digital.
“Literasi sains adalah kemampuan memahami fenomena alam, menganalisis data, memecahkan masalah dengan pendekatan ilmiah, dan mengambil keputusan berbasis fakta, bukan hoaks. Ini harus ditanamkan sejak dini,” ujar Rumiadi saat ditemui di Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Rabu (21/10/26)
Rumiadi menekankan Kabupaten Murung Raya yang kaya akan potensi alam memerlukan sumber daya manusia yang cakap mengelola lingkungan secara berkelanjutan. Ia memetakan empat pilar utama pentingnya literasi sains bagi pelajar di wilayah berjuluk Bumi Tana Malai Tolung Lingu tersebut:
-
Kemampuan Berpikir Ilmiah: Mendorong siswa memverifikasi informasi dengan data akurat ketimbang mempercayai mitos atau narasi tanpa dasar.
-
Inovasi Berbasis Potensi Lokal: Mendorong lahirnya inovator muda yang mampu menciptakan teknologi tepat guna untuk sektor pertanian dan lingkungan hidup.
-
Kesadaran Ekologis: Menumbuhkan kepedulian menjaga ekosistem hutan dan sungai Kalimantan sebagai paru-paru dunia.
-
Daya Saing Global: Menyiapkan pelajar Murung Raya agar mampu bersaing dalam ajang olimpiade sains tingkat nasional hingga internasional.
Untuk merealisasikan target tersebut, DPRD Murung Raya berkomitmen memberikan dukungan penuh melalui fungsi pengawasan dan penganggaran. Rumiadi meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat tidak hanya berfokus pada teori di dalam kelas, tetapi juga memodernisasi fasilitas penunjang.
“Kami mendorong integrasi sains melalui penguatan laboratorium IPA, pembuatan pojok sains, pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), lomba Karya Ilmiah Remaja, hingga pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai laboratorium alam terbuka,” kata Rumiadi.
Ia menambahkan, ketimpangan akses pendidikan di kawasan pelosok seperti Laung Tuhup tidak boleh menjadi penghalang lahirnya peneliti muda dari daerah.
“Jangan biarkan anak-anak kita hanya menjadi penonton kemajuan sains. Kita ingin mereka menjadi pelaku dan penemu. Dari Puruk Cahu hingga pelosok Murung Raya, harus lahir ilmuwan hebat yang membawa nama daerah,” tegasnya.
Sinergi antara pemerintah daerah dan legislatif ini diharapkan menjadi pijakan utama dalam mencetak generasi emas Murung Raya yang berkarakter, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global.

