Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Murung Raya, Sutrisno, S.T.

PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET–

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Murung Raya, Sutrisno, S.T., melontarkan kritik reflektif mengenai realitas sosial di wilayahnya. Di tengah laju pertumbuhan infrastruktur serta sektor pertanian dan perindustrian, ia menilai masih terdapat kesenjangan empati akibat tergerus arus modernisasi dan individualisme digital.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh politisi yang membidangi sektor pertanian dan perindustrian ini di Puruk cahu, Kabupaten Murung Raya, Sabtu (31/10/2026).

Menurut Sutrisno, kemajuan fisik yang dicapai daerah kerap menyisakan ironi di tingkat akar rumput. Ia menyebut banyak warga, khususnya petani dan pelaku industri kecil menengah (IKM), menyimpan beban hidup berat di balik senyuman mereka.

“Kemajuan sektor pertanian dan perindustrian akan kehilangan maknanya jika kita kehilangan kepekaan sebagai manusia,” ujar Sutrisno.

Dalam pandangan Sutrisno, petani dan pengrajin lokal merupakan tulang punggung ketahanan pangan serta ekonomi daerah. Namun, kelompok tersebut dinilai paling sering luput dari perhatian dan “menangis dalam diam” di tengah tekanan ekonomi.

Ia menekankan pembangunan ekonomi tidak boleh hanya berfokus pada infrastruktur fisik semata, melainkan harus diimbangi dengan penguatan infrastruktur sosial (social infrastructure). Tanpa fondasi sosial yang kokoh berupa budaya gotong royong dan tepo seliro, kemajuan daerah dikhawatirkan menjadi rapuh.

Sebagai solusi atas renggangnya kepekaan sosial di era modern, Sutrisno menawarkan kerangka tindakan kolektif yang dibagi ke dalam tiga dimensi utama:

  1. Berbagi Senang, Berbagi Berkah: Memandang kepedulian sebagai kewajiban moral yang tidak menuntut syarat harus kaya terlebih dahulu.

  2. Berbagi Kehadiran: Memberikan dukungan nyata secara fisik maupun emosional saat warga, petani, atau pelaku UMKM mengalami kesulitan.

  3. Berbagi Pemikiran: Menyediakan ruang untuk mendengarkan keluh kesah warga serta menyumbangkan ide, masukan, dan solusi konstruktif.

“Kita harus peka. Ada tangis di balik senyuman tetangga kita. Mungkin hari ini mereka tersenyum, tapi di rumah mereka sedang kesulitan,” kata Sutrisno, mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya peduli sesama.

Refleksi ini ditutup dengan imbauan agar masyarakat Murung Raya menjaga harmoni sosial dari level pedesaan hingga sektor industri, demi mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin yang merata.

(Muslim)