PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET Pembatasan fiskal akibat penurunan transfer dana dari pemerintah pusat dan daerah tidak menyurutkan denyut nadi pembangunan sosial di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Di tengah tekanan ekonomi tersebut, warga bersama aparat pemerintah di tingkat kabupaten hingga desa justru membangkitkan kembali modal sosial lama: tradisi gotong royong dan kerja bakti massal.

Fenomena ketahanan budaya ini mendapat apresiasi tinggi dari Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, H. Johansyah, S.E., M.I.P. Ia menilai, keterbatasan anggaran tidak boleh menjadi alasan untuk melumpuhkan pelayanan publik maupun mereduksi kohesi sosial masyarakat.

“Anggaran boleh turun, tapi semangat gotong royong kita tidak boleh runtuh. Saya sangat bangga melihat di tengah situasi yang terjepit seperti ini, budaya kerja bakti kembali hidup dan terjalin kuat antara pemerintah dan masyarakat,” ujar H. Johansyah, Senin (2/11/2026).

Menurutnya, situasi pelik ini justru menyeleksi ketahanan sebuah daerah: apakah pembangunannya bertumpu sepenuhnya pada ketersediaan anggaran, atau bersandar pada kekuatan kolektif manusianya.

“Ini membuktikan Murung Raya memiliki modal sosial yang jauh lebih berharga dari sekadar angka-angka dalam dokumen anggaran,” tambahnya.

Semangat serupa diterjemahkan langsung ke tingkat akar rumput oleh Kepala Desa Tumbang Masao, Kecamatan Sumber Barito, Salim Ismail, S.I.P. Ia turun tangan memimpin langsung aksi kerja bakti massal yang difokuskan pada pembersihan badan jalan desa serta area Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Bagi Salim, pemeliharaan infrastruktur dasar dan ruang publik bukan sekadar agenda fisik rutin, melainkan manifestasi dari adab dan tanggung jawab moral kepemimpinan lokal.

“Bagi kami, membersihkan jalan dan area pemakaman umum bukan hanya soal fisik, tapi soal adab dan penghormatan. Jalan adalah urat nadi kehidupan warga, pemakaman adalah tempat peristirahatan terakhir para leluhur kita. Merawat keduanya melalui gotong royong adalah kewajiban moral,” tutur Salim Ismail.

Aksi gotong royong di Desa Tumbang Masao ini melibatkan lintas elemen masyarakat secara komprehensif. Berdasarkan catatan di lapangan, kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh:

  • Kepala Desa Tumbang Masao, Salim Ismail

  • Mantir Adat, Efendy

  • Kader Posyandu, Fatmawati

  • Aparatur Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD)

  • Seluruh elemen masyarakat setempat

Kolaborasi lintas sektor—melalui kehadiran Mantir Adat sebagai penjaga tradisi, kader kesehatan sebagai pilar pelayanan dasar, serta aparatur pemerintah—menegaskan bahwa gotong royong di wilayah pedalaman Murung Raya berfungsi sebagai ruang temu inklusif tanpa sekat birokrasi.

Sinergi antara kebijakan legislatif di tingkat kabupaten dan eksekusi taktis di level desa ini memunculkan optimisme baru. Ketika instrumen fiskal negara mengalami pengetatan, solidaritas warga terbukti mampu menjadi peredam kejut sosial.

Bagi Murung Raya, gotong royong kini bertransformasi lebih dari sekadar warisan budaya masa lalu; ia telah menjadi strategi ketahanan kolektif untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi masa depan.

(Muslim)