PURUK CAHU, LenteraKalimantan.net — Dampak kemarau panjang yang memicu akumulasi debu dan kabut asap di Kabupaten Murung Raya mulai mengancam kesehatan warga, terutama kelompok rentan anak-anak. Menanggapi kondisi kualitas udara yang terus memburuk ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Murung Raya mendesak seluruh fasilitas kesehatan hingga ke pelosok desa untuk masuk dalam status siaga pelayanan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Ketua DPRD Kabupaten Murung Raya, Rumiadi, menegaskan bahwa penurunan kualitas udara akibat fenomena alam dan aktivitas pembakaran tidak boleh diabaikan. Ia meminta masyarakat mengencangkan protokol kesehatan mandiri serta meminta Dinas Kesehatan setempat bergerak cepat.

“Musim kemarau panjang ini membuat kualitas udara menurun. Asap dan debu beterbangan. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan. Jangan tunggu sakit parah. Segera gunakan masker, jaga kebersihan, dan perbanyak minum air putih,” kata Rumiadi dalam keterangannya di Puruk Cahu,Jumat (14/8) 

Rumiadi secara khusus menyoroti kesiapan garda terdepan pelayanan medis. Menurutnya, aksesibilitas layanan kesehatan bagi masyarakat pedalaman yang secara geografis sulit dijangkau harus dipastikan tetap optimal tanpa hambatan logistik obat-obatan.

DPRD meminta Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas), hingga Puskesmas Pembantu (Pustu) di tingkat desa untuk menjamin ketersediaan stok obat ISPA dan kesiapan tenaga medis selama 24 jam.

“Puskesmas dan Pustu adalah garda terdepan. Masyarakat di pedalaman juga berhak mendapatkan pelayanan terbaik. Kami minta semua tetap siaga, responsif, dan hadir saat dibutuhkan,” ujar Rumiadi menegaskan.

Selain mendesak kesiapan fasilitas medis, parlemen daerah tersebut menekankan pentingnya pencegahan dari hulu. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas luar ruang tanpa pelindung, menutup ventilasi saat paparan asap mencapai puncaknya, serta menghentikan tradisi membakar sampah atau lahan secara sembarangan yang dapat memperparah polusi udara.

Ia menilai penanganan dampak kemarau dan ancaman ISPA memerlukan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, korporasi yang beroperasi di wilayah tersebut, dan kesadaran kolektif warga.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Perusahaan tidak bisa bergerak sendiri. Masyarakat juga tidak bisa berjuang sendiri. Mari kita jaga diri, jaga keluarga, dan jaga lingkungan bersama-sama,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, Rumiadi mengingatkan bahwa langkah siaga ini merupakan investasi jangka panjang untuk melindungi kualitas hidup generasi muda di Murung Raya. “Karena pada akhirnya, yang kita lindungi bukan hanya paru-paru. Yang kita lindungi adalah masa depan anak-anak Murung Raya yang harus tetap bisa tumbuh sehat meski di tengah kemarau,” pungkasnya.

(Muslim)