PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Bencana musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, kian mengkhawatirkan. Rentetan krisis mulai dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kabut asap, krisis air bersih, hingga penurunan daya beli masyarakat kini menghantam kehidupan warga di desa-desa.
Menanggapi situasi darurat tersebut, Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, H. Johansyah, mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Murung Raya untuk segera melakukan pemetaan detail wilayah terdampak agar penyaluran bantuan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.
“Perbedaan tidak boleh melemahkan kita. Tantangan sebesar apa pun akan terasa ringan jika kita bergerak bersama. Pemerintah, DPRD, dan seluruh lapisan masyarakat harus satu komando. Fokus kita hanya satu: menyelamatkan rakyat dan menjaga masa depan Murung Raya,” kata Johansyah kepada Suara Akar Rumput, Sabtu (23/8/2026).
Politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tersebut menyoroti tiga kebutuhan mendesak yang harus segera diintervensi oleh pemerintah daerah, yaitu:
-
Distribusi Air Bersih: Menjangkau pemukiman warga dan desa-desa yang mengalami kekeringan ekstrem.
-
Layanan Kesehatan Khusus: Penanganan cepat terhadap lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat paparan kabut asap.
-
Stimulus Ekonomi: Bantuan langsung bagi masyarakat rentan, pelaku UMKM, petani, serta nelayan yang kehilangan mata pencaharian.
Sebagai pimpinan Komisi II DPRD yang membidangi Perekonomian, Pertanian, dan Kesejahteraan Rakyat, Johansyah menekankan pentingnya langkah konkret di sektor pangan dan ekonomi kerakyatan. Ia mendorong adaptasi sektor pertanian lewat penyediaan benih tahan kekeringan serta penjaminan akses air bagi lahan tani.
Di samping itu, perlindungan terhadap produk lokal dan keberlangsungan UMKM harus menjadi prioritas agar roda perekonomian warga tidak lumpuh total di tengah krisis.
“Dalam menghadapi berbagai cobaan dan tantangan yang datang silih berganti, kita sedang diuji. Diuji dalam berkepribadian, diuji dalam berkebudayaan. Musim kemarau ini seolah tidak ada ujungnya. Karena itu, mari kita semua ambil bagian. Berikan yang terbaik untuk daerah, dengan satu tujuan: kesejahteraan rakyat Murung Raya,” ujar Johansyah.
Johansyah mengingatkan bahwa penanganan krisis akibat kemarau panjang tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Sinergi lintas sektor—meliputi aparatur desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh adat, tokoh agama, petani, nelayan, hingga kelompok pemuda—menjadi kunci utama.
Nilai musyawarah, gotong royong, dan kepedulian sosial dinilai sebagai modal kultural Murung Raya yang harus dihidupkan kembali, terutama untuk melindungi kelompok rentan seperti balita, lansia, dan warga miskin terdampak.
“Musim akan berganti. Kemarau akan berlalu. Tapi bagaimana kita bersikap hari ini akan menjadi catatan sejarah. Mari kita pilih jalan yang memuliakan manusia, menjaga alam, dan mengutamakan kepentingan bersama,” tutur Johansyah menutup keterangannya.


