MURUNG RAYA – LENTERAKALIMANTAN.NET-
Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanik) Kabupaten Murung Raya meminta para petani, pekebun, dan peternak di wilayahnya segera mengubah pola kerja demi menghadapi tekanan musim kemarau yang mulai melanda. Langkah adaptif ini dinilai krusial guna mencegah kejatuhan produktivitas sektor pangan lokal akibat kekeringan yang kian ekstrem.
Kepala Distanik Murung Raya, Sri Karyawati, menegaskan bahwa dampak kemarau kali ini tidak bisa diremehkan karena memicu efek berantai, mulai dari mengeringnya lahan, menipisnya pakan ternak, hingga sulitnya akses air bersih. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini diyakini bakal mengancam ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga hingga daerah.
“Musim kemarau menuntut kita berpikir lebih cepat dan bertindak lebih cermat. Jaga tanaman, jaga ternak, dan yang paling utama jaga air. Jangan sampai kita kecolongan karena tidak siap,” tegas Sri Karyawati saat memberikan seruan kesiapsiagaan di Murung Raya, Kamis (16/7)
Guna meminimalisasi risiko gagal panen, Distanik mendorong para pelaku tani untuk tidak memaksakan pola tanam konvensional layaknya musim hujan. Sri menginstruksikan tiga langkah taktis di lapangan:
-
Diversifikasi Komoditas: Mengalihkan pilihan tanam ke komoditas pangan dan hortikultura yang memiliki ketahanan tinggi terhadap cuaca kering.
-
Efisiensi Pengairan: Menerapkan metode irigasi hemat air, penggunaan mulsa, serta pengolahan tanah konservasi untuk mempertahankan kelembapan tanah.
-
Deteksi Dini Hama: Memperkuat pengawasan terhadap Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang populasinya cenderung melonjak saat cuaca panas.
Di sektor peternakan, tantangan utama berpusat pada ketersediaan pakan dan kerentanan kesehatan hewan. Distanik mengimbau peternak untuk mengamankan stok pakan serta air minum sebelum sumber air mengering, sekaligus menjaga sanitasi kandang demi menghalau penyakit yang dipicu oleh debu dan suhu panas.
Selain itu, Sri Karyawati melarang keras praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Menurutnya, metode tersebut memicu dampak fatal yang bersifat multi-sektor. “Praktik membuka kebun dengan api bukan hanya merusak lingkungan, tapi juga mengancam ternak dan pemukiman warga,” ujarnya.
Menyikapi situasi ini, Distanik memastikan jajaran penyuluh pertanian lapangan (PPL) akan diturunkan secara aktif untuk memetakan titik-titik rawan kekeringan serta menjadi jembatan solusi bagi para peternak dan petani yang terdampak.
“Kami di Distanik hadir bukan hanya sebagai pengawas, tapi sebagai mitra. Jika ada gagal panen, ternak sakit, atau krisis air, segera laporkan. Kita cari jalan keluar bersama,” kata Sri dengan nada humanis.
Ia menutup imbauannya dengan mengingatkan bahwa adaptasi iklim merupakan wujud dedikasi dalam menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan daerah di tengah cuaca ekstrem. “Ketahanan pangan dimulai dari ketangguhan kita di lapangan. Mari hadapi kemarau ini dengan cerdas, harmonis, dan penuh tanggung jawab,” pungkasnya. (Muslim)












