MURUNG RAYA – LENTERAKALIMANTAN.NET-
Musim kemarau tidak hanya membawa ancaman membara berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di balik kepulan asap dan pekatnya debu jalanan, ada bahaya senyap yang kini mengintai kesehatan warga Kabupaten Murung Raya (Mura), Kalimantan Tengah.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Murung Raya, H. Johansyah, S.E., M.I.P., memperingatkan masyarakat agar tidak lengah terhadap potensi lonjakan berbagai penyakit akibat cuaca ekstrem yang sedang melanda wilayah tersebut.
“Warga diharapkan bukan hanya waspada terhadap kebakaran hutan dan lahan, namun juga terhadap berbagai macam jenis penyakit yang bisa muncul akibat asap, debu, dan udara panas,” ujar Johansyah saat dihubungi redaksi, Kamis (16/7)
Menurut Johansyah, kombinasi udara panas ekstrem dan meningkatnya volume debu di jalanan akibat kekeringan—yang ia sebut sebagai “revolusi” asap dan debu—menjadi pemicu utama rapuhnya daya tahan tubuh masyarakat saat ini.
Beberapa penyakit yang diproyeksikan rawan merebak selama musim kemarau ini meliputi:
-
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan asma (diperparah oleh debu dan asap).
-
Diare dan Dehidrasi (akibat keterbatasan akses air bersih).
-
Gangguan mata serta alergi kulit.
Guna meminimalisasi risiko penularan dan serangan penyakit, politikus senior ini meminta masyarakat untuk lebih aktif melakukan proteksi mandiri secara konsisten. Langkah-langkah preventif yang diimbau meliputi:
-
Menggunakan masker secara disiplin saat beraktivitas di luar ruangan.
-
Meningkatkan konsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi ekstrem.
-
Menjaga kebersihan sanitasi lingkungan sekitar.
-
Segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat jika mulai merasakan gejala sakit, sebelum kondisi memburuk.
Johansyah menegaskan bahwa tanggung jawab ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada masyarakat. Ia mendesak jajaran eksekutif untuk bergerak cepat melakukan mitigasi di lapangan.
“Kami juga mendorong pemerintah daerah dan tenaga kesehatan untuk meningkatkan sosialisasi dan kesiapsiagaan pelayanan, terutama di wilayah yang rawan terdampak,” pungkas Johansyah menutup penjelasannya.












