Lini Maulina salah satu korban yang rumahnya habis terbakar

BANJARMASINLENTERAKALIMANTAN.NET

Kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di kawasan RT 15, Kelurahan Kelayan Barat, Kota Banjarmasin pada Jumat, 12 Juni 2026 malam. Sebanyak tujuh unit rumah terdampak dan sedikitnya 16 jiwa dari 7 Kepala Keluarga (KK) kini kehilangan tempat tinggal. Pasca-bencana, para korban kini berada dalam kondisi darurat dan sangat mengharapkan realisasi bantuan cepat dari Pemerintah Kota Banjarmasin, khususnya dari sang Walikota, H.M. Yamin, dan Wakil Walikota, Hj. Ananda.

Berdasarkan data yang dihimpun di lokasi kejadian, amukan si jago merah tersebut menghanguskan tiga rumah hingga rusak berat, sementara empat rumah lainnya mengalami rusak ringan.

Menurut kesaksian Lini Maulina, salah satu korban yang rumahnya rata dengan tanah, titik api pertama kali terlihat dan membesar dari sebuah rumah milik warga setempat yang akrab disapa Mama Iki. Rumah tersebut diketahui dihuni oleh sepasang kakak beradik bernama Iki dan Lina.

“Api bermula dari Rumah Mama Iki yang dihuni dua anaknya, Iki dan Lina,” ujar Lini Maulina yang tinggal bersama suami dan adiknya saat diwawancarai awak media di lokasi reruntuhan, Sabtu (13/6/2026) pagi.

Lini menceritakan, saat kebakaran terjadi, api berkobar begitu cepat dan langsung membesar. Warga sekitar sempat berupaya melakukan mitigasi awal dengan menyiramkan air menggunakan peralatan seadanya, namun upaya tersebut sia-sia karena pekatnya kobaran api yang sulit dikendalikan.

Beruntung, solidarsitas kemanusiaan di Banjarmasin bergerak cepat. Ratusan personel Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) bersama Tim Emergensi Gabungan langsung merangsek ke lokasi begitu menerima laporan.

“Untungnya saat musibah kebakaran berlangsung, ratusan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) dan Emergensi Gabungan langsung datang ke lokasi untuk memadamkan amukan si jago merah, hingga tidak sempat menjalar ke rumah yang lain,” tutur Lini menambahkan.

Kini, setelah api berhasil dijinakkan, persoalan baru muncul. Kehilangan harta benda membuat Lini dan belasan warga terdampak lainnya terkatung-katung. Mereka mendesak agar Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan serta Pemerintah Kota Banjarmasin melalui dinas terkait segera turun tangan menyalurkan bantuan logistik darurat.

“Mudah-mudahan Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Kota Banjarmasin segera menyalurkan bantuan kepada kami, terutama Walikota Pak Yamin dan Wakilnya Bu Nanda,” harap Lini cemas, merujuk pada kebutuhan mendesak seperti bahan pokok (sembako) dan perlengkapan tidur.

Musibah ini kembali membuka mata warga mengenai krusialnya fasilitas pemadaman di area permukiman. Di tempat yang sama, Taufik, warga Tangsi 10, melayangkan usulan taktis kepada jajaran eksekutif Kota Banjarmasin. Ia mendesak Walikota H.M. Yamin untuk mengalokasikan anggaran khusus pengadaan fasilitas hydrant di setiap rukun tetangga (RT).

Langkah ini dinilai menjadi solusi konkret mengatasi problem klasik pemadam kebakaran di lapangan, yakni perkara sulitnya akses pasokan air.

“Kami mengusulkan kepada Bapak Walikota dan dinas terkait lainnya untuk menganggarankan membikin hydrant di setiap RT guna memudahkan BPK mencari air di lokasi musibah. Kadang para sukarelawan kemanusiaan ini sering kesulitan untuk mendapatkan sumber air dalam bekerja memadamkan kobaran api,” pungkas Taufik tegas.

Bagikan: