
PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET Transportasi sungai masih menjadi denyut nadi utama mobilitas warga Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Hingga saat ini, sekitar 70 persen penduduk setempat masih mengandalkan perahu kayu untuk menyeberangi dan menyusuri aliran Sungai Barito, baik sebagai angkutan umum maupun kendaraan pribadi.
Sekretaris Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, H. Barlin, S.E., menilai keberadaan pengrajin perahu tradisional berbahan kayu bukan sekadar penyedia alat transportasi, melainkan benteng terakhir yang menjaga warisan tradisi dan penggerak ekonomi kerakyatan.
“Di Sungai Barito, sekitar 70 persen warga masih setia menggunakan perahu sebagai sarana transportasi utama. Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun dan nadi perekonomian serta mobilitas warga kita,” kata Barlin di Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, Rabu (21/10/26)
Menengok ke belakang, Barlin mengenang betapa beratnya aksesibilitas sungai di masa lalu. Para leluhur dan tokoh masyarakat harus mengarungi perjalanan dari Puruk Cahu, Kecamatan Murung, hingga ke Kecamatan Sumber Barito menggunakan sampan tradisional berdaya kayuh manusia. Perjalanan tersebut kerap memakan waktu berhari-hari dengan risiko keselamatan yang tinggi.
Peta transportasi sungai mulai bergeser seiring masuknya teknologi mesin tempel berkecepatan rendah seperti Dongfeng RD, TS, dan Kubota. Kini, mayoritas perahu telah bertransformasi menggunakan mesin modern berkecepatan tinggi.
“Seiring kemajuan teknologi, hampir setiap perahu kini dilengkapi mesin berkecepatan tinggi. Bahkan saat musim kemarau dengan debit air surut sekalipun, warga tetap mampu menempuh perjalanan jauh dan tiba tepat waktu,” ujar politikus yang membidangi perekonomian, pembangunan, dan sumber daya alam tersebut.
Transformasi ini tak lepas dari peran para pengrajin lokal. Menurut Barlin, pengrajin perahu di Murung Raya kini makin terampil memadukan kekuatan konstruksi tradisional dengan modifikasi modern. Penyesuaian dilakukan pada desain lambung, haluan, hingga buritan perahu.
Hasilnya, perahu buatan pengrajin Murung Raya tak hanya lebih stabil dan gagah saat membelah riak Barito, tetapi juga memiliki nilai estetika yang lebih tinggi.
“Pengrajin kita sangat kreatif dan inovatif. Mereka mampu memadukan kekuatan tradisi dengan sentuhan modern. Ini bukti bahwa kearifan lokal bisa terus hidup jika kita mau berinovasi,” tutur Barlin.
Melihat besarnya kontribusi sektor ini terhadap mobilitas warga dan penyerapan tenaga kerja, Barlin mendesak Pemerintah Kabupaten Murung Raya melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk memberikan perhatian nyata. Ia mendorong hadirnya pembinaan teknis, fasilitasi akses bantuan permodalan, serta perluasan jangkauan pasar bagi pengrajin lokal.
“Perahu adalah urat nadi Sungai Barito, dan pengrajinnya adalah pahlawan yang menjaga nadi itu agar tetap berdenyut kencang. Mari kita dukung karya anak daerah sendiri. Jangan sampai tradisi dan keahlian adiluhung warisan leluhur ini hilang ditelan zaman,” tegasnya.

